PENGERTIAN
TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Psikologi humanistik (Humanistic Psychology) di buat oleh
sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah
kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat
berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang
dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi
humanistik sebagai “kekuatan ketiga”.Tokoh-tokoh dalam konseling
eksistensial-humanistik yaitu, Abraham Maslow, Carl H. Rogers, Holo May,
Bagental, Yourard dan Arbuckle.
Terapi eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai
dalam memberikan bantuan kepada klien. Karena teori ini mencakup pengakuan
eksistensialisme terhadap kekacauan, keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam
dunia tempat dia bertanggung jawab atas dirinya1.
Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi
eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan
pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk
menentukan satu arah baru dalam hidup.2
Sedangkan menurut W.S Winkel, Terapi Eksistensial Humanistik adalah Konseling
yang menekankan implikasi – implikasi dan falsafah hidup dalam menghayati makna
kehidupan manusia di bumi ini. Konseling Eksistensial Humanistik berfokus pada
situasi kehidupan manusia di alam semesta, yang mencakup tanggung jawab
pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin. Usaha untuk
menemukan makna diri kehidupan manusia, keberadaan dalam komunikasi dengan
manusia lain, kematian serta kecenderungan untuk mengembangkan dirinya
semaksimal mungkin.3
Terapi eksistensial tidak terikat pada salah seorang pelopor, akan tetapi
eksistensial memiliki banyak pengembang, tetapi yang populer adalah Victor
Frankl, Rollo May, irvin Yalom, James Bugental, dan Medard Boss.
Eksistensialisme bersama-sama dengan psikologi humanistik, muncul untuk
merespon dehumanisasi yang timbul sebagai efek samping dari perkembangan
industri dan urbanisasi masyarakat. Pada waktu itu banyak orang membutuhkan
kekuatan untuk mengembalikan sense of humannes disamping untuk memecahkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan kebermaknaan hidup, khususnya yang
berkaitan dengan upaya menghadapi kehancuran, isolasi, dan kematian.
1.
Tujuan Eksistensial Humanistik
Tujuan mendasar eksistensial humanistik adalah membantu individu menemukan
nilai, makna, dan tujuan dalam hidup manusia sendiri. Juga diarahkan untuk
membantu klien agar menjadi lebih sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk
memilih dan bertindak, dan kemudian membantu mereka membuat pilihan hidup yang
memungkinkannya dapat mengaktualisasikan diri dan mencapai kehidupan yang
bermakna.
2.
Ciri-ciri Eksistensial Humanistik
Adapun ciri-ciri dari terapi eksistensial humanistik adalah sebagai berikut:
1. Eksistensialisme
bukanlah suatu aliran melainkan suatu gerakan yang memusatkan penyelidikannya
manusia sebagai pribadi individual dan sebagai ada dalam dunia (tanda sambung
menunjukkan ketakterpisahan antara manusia dan dunia).
2. Adanya dalil-dalil
yang melandasi yaitu
a.
Setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan
mengevaluasi dunia, dan
dalam bereaksi terhadap dunia
b.
Manusia sebagai pribadi tidak bisa dimengerti ddalam kerangka fungsi-
fungsi atau unsur- unsur yang
membentuknya.
c.
Bekerja semata-mata dalam kerangka kerja stimulus respons dan memusatkan
perhatian pada fungsi-fungsi seperti
penginderaan, persepsi, belajar.
3. Berusaha melengkapi,
bukan menyingkirkan dan menggantikan orientasi- orientasi yang ada dalam
psikologi
4. Sasaran eksistensial
adalah mengembangkan konsep yang komperehensif tentang manusia dan
memahami manusia dalam keseluruhan realitas eksistensialnya, misalnya pada
kesadaran, perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan
pengalaman-pengalaman pribadi individual yang berkaitan dengan keberadaan
individualnya dalam dunia dan diantara sesamanya. Tujuan utamanya adalah
menemukan kekuatan dasar, tema, atau tendensi dari kehidupan manusia, yang
dapat dijadikan kunci kearah memahami manusia.
5. Tema-temanya adalah
hubungan antar manusia, kebebasan, dan tanggung jawab, skala nilai-nilai
individual, makna hidup, penderitaan, keputus asaan, kecemasan dan kematian.
3.
Konsep Utama Terapi Humanistik Eksistensial
1. Kesadaran diri
Manusia
memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang
unik dan nyata yang memungkinkan manusia dapat berpikir dan memutuskan.
Kesadaran diri membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Pada
hakikatnya semakin tinggi kesadaran seseorang maka semakin dia hidup sebagai
pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang
untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri
yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi,
faktor-faktor yang membentuk pribadi, dan atas tujuan-tujuan pribadi.
2.
Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tangung jawab
bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi bagian dasar bagi manusia.
Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang dimana merupakan
sesuatu yang patologis, sebab dia bisa menjadi suatu tenaga motivasional
yang kuat untuk pertumbuhan kepribadian.
3. Penciptaan
makna
Manusia itu unik, dalam arti lain bahwa
selalu berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai
yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Manusia pada dasarnya selalu
dalam pencarian makna dan identitas diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk
berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia
adalah mahluk yang rasional dan makhluk sosial yang tidak dapat hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain.
4. Fungsi
dan Peran Terapis
Terapis di dalam terapi humanistik
eksistensial memiliki tugas yang paling utama, yaitu berusaha agar dapat
mengerti pasien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia. Dimana tekhnik
yang digunakan selalu mendahului suatu pengertian yang mendalam terhadap
pasiennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi tidak hanya dari klien
yang satu ke klien yang lain tapi juga dari satu fase ke fase terapi yang
dijalani oleh klien yang sama.
5. Prosedur dan Teknik Terapi Humanistik
a. Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya :
Implikasi Konseling.
Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran akan
adanya alternatif, motivasi, faktor yang mempengaruhi seseorang dan tujuan
hidup pribadi seseorang, merupakan sasaran dari semua konseling
yaitu tugas terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran
memerlukan imbalan.
b.
Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling.
Terapi
eksistensial terus-menerus mengarahkan terfokus pada pertanggungjawaban
klien atas situasi Mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang
lain, menyalahkan kekuatan dari luar. Apabila klien tidak mau mengakui dan
menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang
menciptakan situasi yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut
terlibat dalam usaha perubahan pribadi. Terapis membantu klien dalam
menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan
semangat mereka untuk belajar mengambil resiko dengan menggunakan
kebebasan yang ada. Kalau tidak berbuat seperti itu berarti klien tidak
mampu berjalan dan secara neurotik menjadi ketergantungan pada terapis.
Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit mereka menerima fakta
bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin selama hidupnya selalu
berusaha untuk menghindari dari semua pilihan itu sendiri.
c.
Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa Berhubungan Dengan Orang Lain :
Implikasi Konseling.
Menantang klien untuk mau memulai meneliti
cara dimana mereka telah kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama
dengan jalan membiarkan orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses
terapi itu sendiri sering menakutkan bagi klien dimana pada saat itu
mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan mereka
kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka terpaksa menerima
kembali. Dengan jalan menolak untuk memberikan penyelesaian atau jawaban
yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi dengan realitas yang hanya
mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban mereka sendiri dan dalam diri
mereka sendiri.
d. Pencarian
Makna : Implikasi Konseling.
Kondisi yang tumbuh dari perasaan
ketidaksempurnaan atau kesadaran akan kenyataan bahwa orang ternyata tidak
menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah kesadaran bahwa tindakan serta pilihan
sesorang mengungkapkan kurang dari potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai
pribadi. dimana orang mengabaikan potensi-potensi tertentu yang
dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan eksistensial ini. Beban
kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga bukan sebagai gejala
yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis eksistensial
adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klien tentang cara
mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang kehadiran
makna dan arah hidup.
e. Kecemasan
Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi Konseling.
Kecemasan adalah materi dalam sesi terapi
produktif. jika klien tidak mengalami kecemasan maka motivasi untuk
mengalami perubahan menjadi rendah. maka terapis yang berorientasi
eksistensial dapat menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana
bertenggang rasa dengan keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya
hidup tanpa ditopang bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan
dari hidup yang serba tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang
lebih autonom. Terapis dan klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu
bahwa melepaskan diri dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru
bisa disertai dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa
berkurang pada saat klien mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan
cara-cara hidup yang lebih baru.
f. Kesadaran
Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi Konseling.
Latihan dapat memobilisasikan klien untuk
secara sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini
bisa mengubah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa
menerima keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan
yang lebih bermakna.
6. Tahap
Pelaksanaan Terapi Humanistik Eksistensial
1.
Tahap pendahuluan
Konselor mambantu klien
dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasikan asumsi mereka terhadap
dunia. Klien diajak mendgartikan cara pandang agar eksistensi mereka
diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin pada eksistensial mereka
dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan
mereka.
2. Tahap
pertengahan
Klien di motivasi agar
bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka.
Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan
restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik dan dianggap pantas oleh klien.
3. Tahap
akhir
Berfokus untuk bisa
melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien di
motivasi agar dapat mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang
lengkap. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani
eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam
perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien
sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan
kebebasan pribadinya sendiri.
Daftar
Pustaka
1. Abidin,
Zaenal. (2007). Analisis Eksistensial. Jakarta: PT Raja Grafindo.
2. Semiun,Yustinus.(2006). Kesehatan
mental 3. Kanisius: Yogyakarta
3. Feist,
Jess dan Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. New York: Salemba
Humanika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar