Kesetiaan waktu sangatlah toleran
Kesetiaan alam memang kewajiban
Tapi kesetiaan ku padamu tak bisa di bilang
Bertahun-tahun kesetiaan itu datang dan tinggal tanpa basa
Bagaikan angin ia tiba-tiba saja datang,
Tapi bagaikan kilat ia menghilang
Kesetiaan alam memang kewajiban
Tapi kesetiaan ku padamu tak bisa di bilang
Bertahun-tahun kesetiaan itu datang dan tinggal tanpa basa
Bagaikan angin ia tiba-tiba saja datang,
Tapi bagaikan kilat ia menghilang
Kuhempaskan tubuh hatiku
Merasa capek dan lelah kupandangi kesetiaan itu
Kesetiaan yang melekat dalam kornea ku,
melekat pada sarafku dan melekat pula pada ujung rambutku
Dari situ aku tahu,
Bahwa kesetiaan itu selalu bersamaku memukai tepi hatiku
Tapi kesetiaan itu pula yang kutangisi
Mengapa kesetiaan itu tidak datang dalam kungkungan waktu
yang lama
Sehingga aku bisa merasakan sedikit rasa kesetiaan...
Kuhembuskan nafasku,
Lagi...dan lagi....
Kesetiaan itu memberikan padaku riwayatnya
Riwayat yang indah bagai guratan pelangi,
yang membuatku ingin selalu disampingnya merasakan hangatnya
hati
Tapi apa daya,
kesetiaan itu hilang tanpa beban bagai awan ia meluncur
tajam
"Jangan...jangan"
Berteriaklah mulut hatiku
"Jangan terlalu cepat kau meninggalkanku.. Ingatkah
dulu? Akulah yang membuka riwayatmu! Akulah yang mengukir kata itu di
temaramnya hati. Akulah yang dengan senantiasa memberimu cahaya , tahukah untuk
apa?
Agar kesetiaan itu selalu membara dihatiku!
Agar kesetiaan itu mengingatkanku pada kata mukzizat
itu,
Kata yang selalu kukenang dalam hatiku
Bahwa,
AKU MENCINTAIMU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar