Sabtu, 18 Juni 2016

TERAPI KELOMPOK

1.                  Terapi kelompok
A.                      Pengertian Terapi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama.
Terapi Kelompok adalah salah satu metoda Pekerjaan sosial yang menggunakan kelornpok sebagai rnedia dalam proses pertolongan profesionalnya. Dalam literature Pekeriaan Sosial metode ini sering disebut sebagai groupwork atau group theraphy. Praktik Pekerjaan Sosial dalam kelompok bukanlah fenomena baru. Di Amerika, misalnya, metode ini telah diterapkan lebih dari setengah abad yang lalu. Pada saat itu para Pekerja sosial meyakini bahwa intervensi yang berbasis pada kelornpok sangat efektif dan efisien dalam memecahkan rnasalah individu maupun masalah sosial.
Terapi Kelompok mirip dengan masalah-masalah yang ditangani oleh Terapi lndividu seperti konseling. Yang membedakan dengan Terapi lndividu adalah pendekatannya. Terapi Kelompok tidak menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan, melainkan menggunakan kelompok sebagai media penyembuhan. lndividu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh seorang atau satu tim pekerja Sosial.

B.                       Tujuan Terapi Kelompok
Menurut Hartford dan Alissi metode Terapi Kelompok digunakan untuk memelihara atau memperbaiki keberfungsian personal dan sosial para anggota kelompok dalam beragam tujuan, yakni
1.                        tujuan korektif
2.                         tujuan preventif,
3.                        tujuan pertumbuhan sosial norma,
4.                        tujuan peningkatan personal
5.                         tujuan peningkatan partisipasi dari tanggungjawab masyarakat
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam terapi kelompok antara lain :
1.                       Membantu anggotanya menghadapi stress dalam kehidupan, berfokus pada disfungsi perasaan, pikiran dan perilaku.
2.                       Menawarkan dukungan kepada klien dari seorang terapis selama periode krisis, atau dekompensasi sementara, memulihkan, dan memperkuat pertahanan sementara serta mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu
3.                        Mempertahankan homeostasis terhadap adanya perubahan yang tidak diperkirakan sebelumnya maupun kejadian yang terjadi secara bertahap.
4.                       Menurunkan rasa terisolasi, meningkatkan penyesuaian kembali dan juga hubungan bagi
komunitas yang bermasalah serta meningkatkan kemampuan memecahkan masalah

C.                      Kelebihan dan Kelemahan Terapi Kelompok
Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut
1. Kelebihan Terapi Kelompok
a. Keterbukaan antar anggota kelompok untuk member dan menerima informasi dan pendapat anggota lain.
b. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan
menekan kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok.
c.  Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan norma yang telah
disepakati oleh kelompok.
2.                    Kekurangan Terapi Kelompok
Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak
anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas
            pertemuan.

D. Komponen Kelompok dalam Terapi Kelompok
1. Struktur kelompok
Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
2.                       Besar kelompok
Menurut Dr. Wartono (1976) dalam Yosep (2007), Jumlah ideal anggota kelompok 7-8 orang. Jumlah minimum anggota kelompok berkisar 4 orang dan jumlah maksimum 10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika
terlalu kecil maka tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi.
3.                       Lamanya sesi
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20 – 40 menit untuk fungsi terapi rendah, dan 60 – 120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Biasanya dimulai dengan orientasi, kemudian tahap kerja dan terminasi. Frekuensi pertemuan dapat disesuaikan dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
4.                       Komunikasi
Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobsevasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetisi, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan.
5.                       Peran kelompok
Pemimpin (leader) harus memiliki kemampuan dalam proses yang terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi, peningkatan intonasi suara, sikap menghakimi antar anggota kelompok selama interaksi berlangsung. Dengan kata lain pemimpin harus peka terhadap adanya konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan pengetahuan menyeluruh terhadap kelompok, pengetahuan tentang topic atau isu yang sedang didiskusikan dalam kelompok. Selain itu juga pemimpin harus memiliki kemampuan mempresentasikan topic dengan bahasa yang dapat di mengerti oleh anggota kelompok.      
6.                       Kekuatan kelompok
Kekuatan kelompok adalah kemampuan anggota kelompok dalam mempengaruhi jalannya kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok
7.                       Norma kelompok
Norma adalah standar perilaku dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pengalaman masa laludan saat ini. Pemahaman tentang norma berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.
8.                       Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan antar anggota kelompok bekerjasama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk tertarik dan puas terhadap kelompoknya. Terapis perlu melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, selain mengelompokkan anggota yang memiliki masalah yang sama. Terapis juga menciptakan kekohesifan dengan cara mendorong kelompok untuk berbicara satu sama lainnya. Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota member pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lainnya.

E.                      Cara Melakukan Terapi Kelompok
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam terapi kelompok adalah:
1.                       Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.
2.                        Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.
3.                       Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur. Minat dan ketertarikan individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena anggota yang memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur.
4.                       Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
Taraf permulaan. Dalam langkah ini, terapis perlu membicarakan apakah waktu yang telah ditentukan dan disepakati bersama itu tetap bisa dilaksanakan, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara anggota yang satu dengan yang lainnya karena tiap anggota harus saling menghormati agar apabila anggota yang satu sedang berbicara maka anggota yang lain dapat memperhatikan, adanya keterbukaan antara anggota yang satu dengan yang lain serta dengan terapis, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara anggota kelompok dengan terapis, serta adanya kesepakatan untuk menjaga kerahasiaan. Mengembangkan dan memelihara situasi kelompok. Melakukan diskusi, saling berbagi pendapat dan pengalaman, serta memecahkan masalah
5.                       Tahap Evaluasi dan Terminasi
Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.

F.                      Manfaat Terapi Kelompok
Dapat mengidentifikasi masalah bersama orang lain yang memiliki permasalahan yang sama Dapat membantu klien untuk meningkatkan hubungan interpersonal dengan klien lain sehingga setiap dari mereka dapat saling mendukung Dapat membantu menghilangkan perasaan-perasaan terisolasi dalam diri klien Dapat membantu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang dirasakan oleh klien Dapat mendorong klien untuk membicarakan perasaan-perasaan batinnya dengan sepenuh hati Dapat membantu klien untuk melepaskan ketegangan dalam diri yang telah dipendam Dapat meningkatkan klien untuk berpartisipasi serta bertukar pikiran dan masalah dengan orang lain.

G.                     Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Kelompok
Terapi kelompok dapat menjadi terapi pilihan untuk orang yang masalahnya terutama antar pribadi dan yang tidak mengalami gangguan psikiatrik utama. Terapi kelompok juga baik untuk orang yang hanya memerlukan tempat dimana ia dapat mencoba perilaku yang baru dan mempraktekkan keterampilan sosial yang baru. Berikut kasus-kasusnya :
1.                   Kecanduan alcohol, obat-obat terlarang dan rokok
2.                   Kekerasan seksual
3.                   Stress dalam menghadapi penyakit yang di derita
4.                   Trauma
5.                   Korban bullying
6.                   Insomnia
7.                   Permasalahan hubungan sosial
8.                   Orang yang mengalami masalah emosional
9.                   Siswa yang mengalami kesulitan belajar

Contoh Kasus:
Alice, 54 tahun. Ketika keluarganya akhirnya membujuknya untuk berobat ke klinik rehabilitasi alkohol. Ia jatuh terguling tangga kamar tidurnya saat dalam keadaan mabuk, dan mungkin kejadian tersebut yang akhirnya membuatnya mengakui bahwa ada yang salah dengan dirinya. Kebiasaan minumnya menjadi tidak terkendali selama beberapa tahun terakhir. Ia mengawali hari dengan minum, berlanjut sepanjang pagi, dan pada siang hari ia berada dalam kondisi mabuk total. Ia jarang ingat tentang berbagai hal yang terjadi selepas tengah hari. Sejak awal masa dewasa ia minum secara rutin, namun jarang pada siang hari dan tidak pernah sampai mabuk. Kematian suaminya secara mendadak dalam sebuah kecelakaan mobil dua tahun sebelumnya telah memicu peningkatan frekuensi minumnya, dan dalam enam bulan kebiasaan minumnya telah berubah menjadi pola penyalahgunaan alkohol yang parah. Ia tidak memiliki keinginan untuk keluar rumah dan berhenti melakukan berbagai aktivitas sosial dengan keluarga dan teman-temannya. Upaya yang berulang kali dilakukan keluarganya untuk membuatnya membatasi konsumsi alkohol hanya memicu pertengkaran.
Terapi yang cocok untuk kasus diatas adalah terapi kelompok. Dengan terapi kelompok klien mendapat kesempatan untuk belajar cara berinteraksi sosial atau bersosialisasi, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut klien dilatih untuk tidak menarik diri ataupun menghindar dan klien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain.

Daftar Pustaka:
1.                       Kompasiana. Ketergantungan dan Penyalahgunaan Alkohol. (diakses 13/07/2015) http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2014/01/07/ketergantungan-dan-penyalahgunaan-alkohol-622963.html
2.                       Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: KANISIUS
3.                       Suharto, E. (2007). Pekerjaan Sosial di Dunia Industri – CSR. Bandung: Refika Aditama


FAMILY THERAPY ( TERAPI KELUARGA)

1. Family Therapy ( Terapi Keluarga)
A. Pengertian Family Therapy
Family (keluarga) adalah suatu kelompok individu yang terkait oleh ikatan perkawinan atau darah. Secara khusus mencakup seorang ayah, ibu dan anak. Sedangkan Therapy (terapi) adalah suatu perlakuan atau pengobatan yang ditujukan pada penyembuhan suatu kondisi patologis.
Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah : “Suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota- anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan”.
Terapi Keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah- masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah- masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, konseling yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.

B. Tujuan Family Therapy
Tujuan terapi keluarga oleh para ahli di rumuskan secara berbeda. Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu konseling (anggota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga.
Sedangkan Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam suatu keluarga. Diharapkan keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat realitas, mempertimbangkan alternatif sedapat mungkin dan pola transaksional. Anggota keluarga dapat mengembangkan pola hubungan yang baru dan struktur yang mendapatkan self reinforcing.
Menurut Glick dan Kessler mengemukakan tujuan umum konseling keluarga adalah:
1) Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.
2) Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3) Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukkan kepada anggota lainnya.
Jadi tujuan terapi keluarga adalah membantu konseli untuk mengubah struktur keluarga dengan cara menyusun kembali kerukunan dan kesatuan. Sehingga dapat menyelesaikan perpecahan yang terjadi dalam keluarga dan juga mewadahi atau memfasilitasi komunikasi, pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.

C. Unsur- unsur Family Therapy
Terapi Keluarga didasarkan pada teori system yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama, adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
Prinsip kedua, ekologi yang mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga. Terapi Keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga tanpa adanya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa sistem dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga. 
Jadi, terapi keluarga ada tiga teori system. Pertama, apabila terdapat peristiwa dalam menjalani suatu hubungan anggota keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja melainkan banyak arahan atau efek dari luar keluarga. Dan perilaku tiap anggota keluarga berbeda tingkatan dengan satu dengan lainnya. Prinsip kedua ekologi (lingkungan) setelah ditinjau dari prinsip pertama yang mengemukakan dalam menjalani suatu hubungan anggota keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja, sebab akan berpengaruh oleh perilaku anggota keluarga satu dengan lainnya. Prinsip ketiga, setelah menerima efek dari luar setiap anggota keluarga mempunyai persepsi atau pendapat sendiri dari tiap-tiap masalah.

D. Teknik- Teknik Family Therapy
Beberapa Tehnik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi :
1) Pemeragaan : yaitu dengan cara memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya, ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran- sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama dan komunikasi dalam keluarga paling penting.
2) Homework: yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
3) Family sculpting: cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.
4) Genograms: adalah sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga. Genogram adalah sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga.
5) Tehnik Modifikasi Tingkah Laku: Terdapat kesamaan antara tehnik modifikasi perilaku dan pendekatan strategic, kemudian Gregory Bateson mengembangkannya. Pendekatan ini banyak dikaji oleh peneliti dan terapis.
Jadi, teknik terapi keluarga ada lima yaitu : pemeragaan, homework, family sculpting, genograms, tehnik modifikasi tingkah laku. Teknik-teknik diatas salah satunya dapat digunakan dalam proses terapi. Setiap masalah dapat dikumpulkan data-data dari informasi anggota keluarga, dan mendekatkan diri dengan anggota lainnya.

E. Peran konselor dalam Family Therapy
Peran konselor dalam membantu konseli dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir. Diantaranya sebagai berikut:
1) Konselor berperan sebagai “ facilitative a comfortable”, membantu konseling melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan- tindakannya sendiri.
2) Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3) Konselor menggunakan peran perlakuan atau treatment melalui peran setting interaksi
4) Berusaha menghilangkan pembelaan diri dari keluarga.
5) Mengajarkan konseli untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan melakukan self control.
6) Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterprestasi peran – peran yang disampaikan konseling atau anggota keluarga.
7) Konselor menolak pembuatan penilaian dan membantu menjadi congruence dalam respon- respon anggota keluarga.
8) Konselor tidak boleh menjadi pribadi yang trereotip terhadap urutan kelahiran. Pada saat yang sama, menjelajahi urutan kelahiran dan pengaruhnya pada perkembangan kepribadian seseorang akan sangat memungkinkan untuk dapat memahami orang tersebut.
9) Konselor memiliki banyak peran dalam pendekatan ini antara lain bimbingan, coach, model dan konsultan. Konselor pada konseling keluarga diharapkan mempunyai kemampuan profesional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadian. Konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, membantu mengembangkan penghargaan anggota keluarga terhadap potensi anggota keluarga lain sesuai dengan realitas yang ada pada dirinya dan mempunyai wawasan serta alternatif rencana untuk pengembangannya atas bantuan semua anggota keluarga dan mampu membantu konseling agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya.
Jadi, dalam Family Therapy disini salah satunya konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, dan mampu membantu konseli agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya

F. Proses dan Tahapan Family Therapy
Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Historisnya yaitu dimulai pada diri individu yang menekankan pada aspek intrapsikisnya kemudian berlanjut kepada individu sebagai anggota keluarga sehingga meningkatnya hubungan interpersonal dan komunikasi diantara mereka. Terapi keluarga berfokus pada cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis yang terstruktur dengan dipandang sesuatu yang salah.
Pada mulanya seorang konseli datang dengan konselor untuk mengkonsolidasikan masalahnya. Biasanya datang pertama kali ini lebih bersifat “identifikasi pasien”. Tetapi untuk tahap penanganan (treatment) diperlukan kehadiran anggota keluarga yang lain. Menurut Satir, tidak mungkin mendengarkan peran, status, nilai dan norma keluarga atau kelompok, jika tidak ada kehadiran anggota keluarga yang lain.
Jadi dalam pandangan ini, anggota keluarga yang lain harus datang ke konselor. Kehadiran konseli ke konselor dapat dilangsungkan sampai tiga kali dalam seminggu. Dalam pelaksanaannya, sekalipun bersifat spekulatif, pelaksanaan konseling dapat saja dilakukan secara kombinatif, setelah konseling individual dilanjutkan dengan kelompok atau sebaliknya. Tahapan terapi keluarga secara garis besar proses dalam konseling keluarga adalah:
1) Pengembangan Rapport, merupakan hubungan suasana konseling yang akrab, jujur, saling percaya, sehingga menimbulkan keterbukaan dari konseli. Upaya pengembangan rapport ini ditentukan oleh aspek –aspek diri konselor yakni kontak mata, perilaku non verbal (perilaku attanding, bersahabat/ akrab, hangat, luwes, ramah, jujur, penuh perhatian). Dan bahasa lisan/ verbal yang baik.
2) Pengembangan apresiasi emosional, dimana munculnya kemampuan untuk menghargai perasaan masing- masing anggota keluarga, dan keinginan mereka agar masalah yang mereka hadapi dapat terselesaikan semakin besar.
3) Pengembangan alternatif modus perilaku. Dalam tahap ini, baik konseli maupun anggota keluarga mengembangkan dan melatihkan perilaku- perilaku baru yang disepakati berdasarkan hasil diskusi dalam konseling. Pada tahap ini muncul home assignment, yaitu mencobakan/ mempraktikkan perilaku baru selama masa satu minggu (misalnya) dirumah, kemudian akan dilaporkan pada sesi berikutnya untuk dibahas, evaluasi dan dilakukan tindakan selanjutnya
4) Fase membina hubungan konseling. Adanya acceptance, unconditional positive regard, understanding, genuine, empathy.
5) Memperlancar tindakan positif. Terdiri dari eksplorasi, perencanaan atau pengembangan perencanaan bagi konseli sesuai dengan tujuan untuk memecahkan masalah, kemudian penutup untuk mengevaluasi hasil konseling sampai menutup hubungan konseling.

Menurut conjoint family therapy, langkah/ proses konseling yang dapat ditempuh adalah:
1) Intake interview, building working alliance. Bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan konseling dengan anggota keluar lainnya ( untuk mengungkap kesuksesan dan kegagalan , kekuatan dan kelemahan, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian dan area masalahnya.
2) Case conceptualization and treatment planning, mengenal masalah/ memperjelas masalah, kemudian fokus pada rencana intervensi apa yang akan dilakukan untuk penanganan masalah.
3) Implemention, menerapkan intervensi yang disertai dengan tugas- tugas yang dilakukan bersama antara konseling dan keluarga, contohnya: free drawing art ask ( menggambar bebas mewakili keberadaan mereka baik secara kognitif, emosi, dan peran yang mereka mainkan), home work.
4) Evaluation termination, melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
5) Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.

F. Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Keluarga
Dalam terapi keluarga ada penyelesaian kasus yang ditekankan tentang bagaimana mengubah perilaku anggota keluarga / keluarga dengan memodifikasi gejala atau akibat dari suatu tindakan. Penekanan pada penghilangan perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku positif, diantaranya:
1.      Latihan perilaku orang tua ( behavioral parent training ) Behavioral parent training menunjukkan pada pelatihan keterampilan orang tua. Terapis membantu sebagai pendidik belajar sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk merubah respon orang tua terhadap anak-anaknya. Berubahnya respon orang tua, akan membuat perilaku anak pun berubah. Tipe ini menggunakan metode verbal dan perbuatan.
2.      Terapi pernikahan / suami istri ( mariage/ couples therapies and education )
a.       Analisis perilaku dalam masalah suami istri
b.      Pembalasan yang positif
c.       Pelatihan keterampilan berkomunikasi
d.      Latihan memecahkan masalah
3.      Treatment pada Disfungsi seksual ( treatment of sexual disfunctioning) Digunakan untuk membantu pasangan suami istri yang mengalami gangguan pada hubungan seks mereka, yang kemudian menjadi masalah pasangan. Seperti ejakulasi dini.
4.      Terapi fungsi keluarga ( functional family therapy ) Dalam functional family therapy, pertolongan diberikan apabila hubungan interpersonal antar anggota keluarga dalam keadaan :
a.       Contact/ Closeness ( Merging )
b.      Anggota keluarga sama-sama bersaing di dalam keluarga.
c.       Distance/ Independence ( Separating )
d.      Anggota keluarga saling memisahkan diri, ada jarak diantara mereka.

G.     Contoh Kasus Terapi Keluarga
Terdapat kasus dari seorang anak yang berusia 5 tahun ketika dirumahnya saat itu ia diasuh oleh seorang pengasuh rumah tangga karena orangtua yang bekerja. Suatu hari ketika dirumah sang anak hanya berdua dengan sang pengasuh pada waktu siang hari ia sedang tidur siang, tiba-tiba ada perampok yang memasuki rumah tersebut dan membangunkan anak tersebut dan pengasuh tersebut lalu diikat dan duduk di lantai. Perampok datang dengan perlakuan yang kasar padanya dan pengasuh. Berteriak-teriak menanyakan dimana letak barang berharga seperti uang, perhiasan. Sang anak terus menangis ketakutan. Perampok tersebut memukuli anak tersebut dan pengasuhnya. Ketika perampok itu pergi sang anak dan pengasuh dengan tubuh yang masih terikat kain dan pintu rumah yang tertutup sampai tiba orangtuanya datang pulang dari bekerja dan kaget histeris melihat anaknya dan pengasuhnya dengan keadaan terikat dan duduk dilantai. Orang tua pun langsung mendekat dan menanyakan yang sebenarnya yang terjadi.
Setelah pengalaman tersebut sang anak dan orangtuanya pindah rumah dan tidak memiliki pengasuh lagi. Ibu nya yang berhenti bekerja. Setiap kali ia berada di rumah ia sering menangis dan tak pernah jauh dari sang ibu. Sang anak yang menjadi takut untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak mau keluar rumah, bahkan tidak mau berkomunikasi. Hal ini sangat menghawatirkan bagi sang anak karena ketika ia bersekolah sangat menggangu mental dan psikis anak tersebut. Orang tua yang terus menghawatirkan anaknya akibat masa trauma yang berkepanjangan dapat menggangu kesehatan mental anak.
Orangtua pun datang ketempat terapi dimana ia menginginkan anaknya tidak terlalu merasakan trauma yang berkepanjangan dari masa kejadian perampok dimasalalu itu. Dan dapatlah hasil yang sangat memuaskan bahwa saat ini anaknya mau untuk berinteraksi, berkomunikasi bahkan mau menerima datangnya oranglain dalam kehidupannya.

Ciptakan suasana lingkungan aman dan nyaman biar anak selalu dalam kondisi senang dan bahagia. Sebagai contoh hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dan anggota keluarga untuk membantu konselor dalam mengelola emosi anak diantaranya adalah mampu mengendalikan amarah, membuang rasa takut, membuang cemburu dan meredakan kesedihan.

Daftar Pustaka
1.      Kartini Kartono. 1985. Bimbingan Konseling dan Dasar- dasar Pelaksanaan Tehnik Bimbingan Praktik. Jakarta: CV.Rajawali.  
2.      Kartini Kartono dan Gulo. 1987. Kamus Psikologi. Bandung: CV. Pioner Jaya.
3.      Latipun. 2011. Psikologi Konseling. Pers Universitas Muhammadiyah Malang.
4.      Katryn Geldard. 2011.  Konseling Keluarga.  Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
5.      Sofyan S. Willis. 2009. Konseling Keluarga. Bandung: Alfabeta.