1. Family
Therapy ( Terapi Keluarga)
A. Pengertian Family Therapy
Family (keluarga) adalah suatu kelompok individu
yang terkait oleh ikatan perkawinan atau darah. Secara khusus mencakup seorang ayah,
ibu dan anak. Sedangkan Therapy (terapi) adalah suatu perlakuan atau pengobatan
yang ditujukan pada penyembuhan suatu kondisi patologis.
Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus
psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah : “Suatu bentuk terapi
kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota-
anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam
usaha penyembuhan”.
Terapi Keluarga adalah model terapi yang bertujuan
mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah- masalah dalam
keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah- masalah yang ada
pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya,
konseling yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa
terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari
psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah
penyebab dari perilaku maladaptive.
B.
Tujuan Family Therapy
Tujuan terapi keluarga oleh para ahli di rumuskan
secara berbeda. Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu
konseling (anggota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya
menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga.
Sedangkan Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga
adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan
dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam suatu keluarga. Diharapkan
keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat realitas, mempertimbangkan
alternatif sedapat mungkin dan pola transaksional. Anggota keluarga dapat
mengembangkan pola hubungan yang baru dan struktur yang mendapatkan self
reinforcing.
Menurut
Glick dan Kessler mengemukakan tujuan umum konseling keluarga adalah:
1)
Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.
2)
Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3)
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukkan
kepada anggota lainnya.
Jadi tujuan terapi keluarga adalah membantu konseli
untuk mengubah struktur keluarga dengan cara menyusun kembali kerukunan dan
kesatuan. Sehingga dapat menyelesaikan perpecahan yang terjadi dalam keluarga
dan juga mewadahi atau memfasilitasi komunikasi, pikiran dan perasaan antara
anggota keluarga.
C. Unsur- unsur Family Therapy
Terapi Keluarga didasarkan pada teori system yang
terdiri dari 3 prinsip. Pertama, adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan
dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan.
Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku
tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
Prinsip kedua, ekologi yang mengatakan bahwa system
hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari
bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota
akan mempengaruhi yang lain.
Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya
tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga
mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga. Terapi Keluarga tidak bisa
digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan
kerja antar anggota kunci keluarga tanpa adanya kesadaran akan pentingnya
menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga
sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau
terlibat, namun beberapa sistem dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat
dalam terapi keluarga.
Jadi, terapi keluarga ada tiga teori system.
Pertama, apabila terdapat peristiwa dalam menjalani suatu hubungan anggota
keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja melainkan banyak arahan
atau efek dari luar keluarga. Dan perilaku tiap anggota keluarga berbeda tingkatan
dengan satu dengan lainnya. Prinsip kedua ekologi (lingkungan) setelah ditinjau
dari prinsip pertama yang mengemukakan dalam menjalani suatu hubungan anggota
keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja, sebab akan berpengaruh
oleh perilaku anggota keluarga satu dengan lainnya. Prinsip ketiga, setelah
menerima efek dari luar setiap anggota keluarga mempunyai persepsi atau
pendapat sendiri dari tiap-tiap masalah.
D.
Teknik- Teknik Family Therapy
Beberapa
Tehnik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi :
1)
Pemeragaan : yaitu dengan cara memperagakan ketika masalah itu muncul.
Misalnya, ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis
membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran- sarannya
dan bisa disebut dengan psikodrama dan komunikasi dalam keluarga paling
penting.
2)
Homework: yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling
berkomunikasi diantaranya.
3)
Family sculpting: cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain
dengan cara nonverbal.
4)
Genograms: adalah sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan
mengorganisasi informasi tentang keluarga. Genogram adalah sebuah diagram
terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai
roadmap dari sistem hubungan keluarga.
5)
Tehnik Modifikasi Tingkah Laku: Terdapat kesamaan antara tehnik modifikasi
perilaku dan pendekatan strategic, kemudian Gregory Bateson mengembangkannya.
Pendekatan ini banyak dikaji oleh peneliti dan terapis.
Jadi, teknik terapi keluarga ada lima yaitu :
pemeragaan, homework, family sculpting,
genograms, tehnik modifikasi tingkah laku. Teknik-teknik diatas salah
satunya dapat digunakan dalam proses terapi. Setiap masalah dapat dikumpulkan
data-data dari informasi anggota keluarga, dan mendekatkan diri dengan anggota
lainnya.
E.
Peran konselor dalam Family Therapy
Peran konselor dalam membantu konseli dalam
konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir. Diantaranya sebagai berikut:
1) Konselor berperan sebagai “
facilitative a comfortable”, membantu konseling
melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan- tindakannya sendiri.
2)
Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3)
Konselor menggunakan peran perlakuan atau treatment melalui peran setting
interaksi
4)
Berusaha menghilangkan pembelaan diri dari keluarga.
5)
Mengajarkan konseli untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan
melakukan self control.
6)
Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan
menginterprestasi peran – peran yang disampaikan konseling atau anggota
keluarga.
7)
Konselor menolak pembuatan penilaian dan membantu menjadi congruence dalam
respon- respon anggota keluarga.
8)
Konselor tidak boleh menjadi pribadi yang trereotip terhadap urutan kelahiran.
Pada saat yang sama, menjelajahi urutan kelahiran dan pengaruhnya pada
perkembangan kepribadian seseorang akan sangat memungkinkan untuk dapat
memahami orang tersebut.
9)
Konselor memiliki banyak peran dalam pendekatan ini antara lain bimbingan,
coach, model dan konsultan. Konselor pada konseling keluarga diharapkan
mempunyai kemampuan profesional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota
keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadian.
Konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang
tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, membantu mengembangkan penghargaan
anggota keluarga terhadap potensi anggota keluarga lain sesuai dengan realitas
yang ada pada dirinya dan mempunyai wawasan serta alternatif rencana untuk pengembangannya
atas bantuan semua anggota keluarga dan mampu membantu konseling agar dapat
menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami
dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota
keluarga lainnya.
Jadi, dalam Family Therapy disini salah satunya
konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang
tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, dan mampu membantu konseli agar
dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan,
memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan
anggota keluarga lainnya
F.
Proses dan Tahapan Family Therapy
Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara
unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Historisnya yaitu dimulai
pada diri individu yang menekankan pada aspek intrapsikisnya kemudian berlanjut
kepada individu sebagai anggota keluarga sehingga meningkatnya hubungan
interpersonal dan komunikasi diantara mereka. Terapi keluarga berfokus pada
cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis yang terstruktur
dengan dipandang sesuatu yang salah.
Pada mulanya seorang konseli datang dengan konselor
untuk mengkonsolidasikan masalahnya. Biasanya datang pertama kali ini lebih bersifat “identifikasi pasien”.
Tetapi untuk tahap penanganan (treatment) diperlukan kehadiran
anggota keluarga yang lain. Menurut Satir, tidak mungkin mendengarkan peran,
status, nilai dan norma keluarga atau kelompok, jika tidak ada kehadiran
anggota keluarga yang lain.
Jadi dalam pandangan ini, anggota keluarga yang lain
harus datang ke konselor. Kehadiran konseli ke konselor dapat dilangsungkan
sampai tiga kali dalam seminggu. Dalam pelaksanaannya, sekalipun bersifat spekulatif,
pelaksanaan konseling dapat saja dilakukan secara kombinatif, setelah konseling
individual dilanjutkan dengan kelompok atau sebaliknya. Tahapan terapi keluarga
secara garis besar proses dalam konseling keluarga adalah:
1)
Pengembangan Rapport, merupakan hubungan suasana konseling yang akrab, jujur,
saling percaya, sehingga menimbulkan keterbukaan dari konseli. Upaya
pengembangan rapport ini ditentukan oleh aspek –aspek diri konselor yakni
kontak mata, perilaku non verbal (perilaku attanding, bersahabat/ akrab,
hangat, luwes, ramah, jujur, penuh perhatian). Dan bahasa lisan/ verbal yang
baik.
2)
Pengembangan apresiasi emosional, dimana munculnya kemampuan untuk menghargai
perasaan masing- masing anggota keluarga, dan keinginan mereka agar masalah
yang mereka hadapi dapat terselesaikan semakin besar.
3)
Pengembangan alternatif modus perilaku. Dalam tahap ini, baik konseli maupun
anggota keluarga mengembangkan dan melatihkan perilaku- perilaku baru yang
disepakati berdasarkan hasil diskusi dalam konseling. Pada tahap ini muncul
home assignment, yaitu mencobakan/ mempraktikkan perilaku baru selama masa satu
minggu (misalnya) dirumah, kemudian akan dilaporkan pada sesi berikutnya untuk
dibahas, evaluasi dan dilakukan tindakan selanjutnya
4)
Fase membina hubungan konseling. Adanya acceptance, unconditional positive regard, understanding, genuine, empathy.
5)
Memperlancar tindakan positif. Terdiri dari eksplorasi, perencanaan atau
pengembangan perencanaan bagi konseli sesuai dengan tujuan untuk memecahkan
masalah, kemudian penutup untuk mengevaluasi hasil konseling sampai menutup
hubungan konseling.
Menurut
conjoint family therapy, langkah/ proses konseling yang dapat ditempuh adalah:
1)
Intake interview, building working alliance. Bertujuan untuk mengeksplorasi
dinamika perkembangan konseling dengan anggota keluar lainnya ( untuk
mengungkap kesuksesan dan kegagalan , kekuatan dan kelemahan, pola hubungan
interpersonal, tingkah laku penyesuaian dan area masalahnya.
2) Case conceptualization and
treatment planning, mengenal masalah/ memperjelas masalah,
kemudian fokus pada rencana intervensi apa yang akan dilakukan untuk penanganan
masalah.
3)
Implemention, menerapkan intervensi yang disertai dengan tugas- tugas yang
dilakukan bersama antara konseling dan keluarga, contohnya: free drawing art
ask ( menggambar bebas mewakili keberadaan mereka baik secara kognitif, emosi,
dan peran yang mereka mainkan), home work.
4)
Evaluation termination, melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling
yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan
konseling.
5)
Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan
meningkatkan proses konseling.
F. Kasus-kasus
yang diselesaikan dalam Terapi Keluarga
Dalam
terapi keluarga ada penyelesaian kasus yang ditekankan tentang bagaimana
mengubah perilaku anggota keluarga / keluarga dengan memodifikasi gejala atau
akibat dari suatu tindakan. Penekanan pada penghilangan perilaku yang tidak
sesuai menjadi perilaku positif, diantaranya:
1. Latihan
perilaku orang tua ( behavioral parent training ) Behavioral
parent training menunjukkan pada pelatihan
keterampilan orang tua. Terapis membantu sebagai pendidik belajar sosial yang
mempunyai tanggung jawab untuk merubah respon orang tua terhadap anak-anaknya.
Berubahnya respon orang tua, akan membuat perilaku anak pun berubah. Tipe ini
menggunakan metode verbal dan perbuatan.
2. Terapi
pernikahan / suami istri ( mariage/ couples therapies and education )
a. Analisis
perilaku dalam masalah suami istri
b. Pembalasan
yang positif
c. Pelatihan
keterampilan berkomunikasi
d. Latihan
memecahkan masalah
3. Treatment
pada Disfungsi seksual ( treatment of sexual disfunctioning) Digunakan
untuk membantu pasangan suami istri yang mengalami gangguan pada hubungan seks
mereka, yang kemudian menjadi masalah pasangan. Seperti ejakulasi dini.
4. Terapi
fungsi keluarga ( functional family therapy ) Dalam
functional family therapy, pertolongan diberikan apabila hubungan interpersonal
antar anggota keluarga dalam keadaan :
a. Contact/
Closeness ( Merging )
b. Anggota
keluarga sama-sama bersaing di dalam keluarga.
c. Distance/
Independence ( Separating )
d. Anggota
keluarga saling memisahkan diri, ada jarak diantara mereka.
G. Contoh
Kasus Terapi Keluarga
Terdapat
kasus dari seorang anak yang berusia 5 tahun ketika dirumahnya saat itu ia
diasuh oleh seorang pengasuh rumah tangga karena orangtua yang bekerja. Suatu
hari ketika dirumah sang anak hanya berdua dengan sang pengasuh pada waktu
siang hari ia sedang tidur siang, tiba-tiba ada perampok yang memasuki rumah
tersebut dan membangunkan anak tersebut dan pengasuh tersebut lalu diikat dan
duduk di lantai. Perampok datang dengan perlakuan yang kasar padanya dan
pengasuh. Berteriak-teriak menanyakan dimana letak barang berharga seperti
uang, perhiasan. Sang anak terus menangis ketakutan. Perampok tersebut memukuli
anak tersebut dan pengasuhnya. Ketika perampok itu pergi sang anak dan pengasuh
dengan tubuh yang masih terikat kain dan pintu rumah yang tertutup sampai tiba
orangtuanya datang pulang dari bekerja dan kaget histeris melihat anaknya dan
pengasuhnya dengan keadaan terikat dan duduk dilantai. Orang tua pun langsung
mendekat dan menanyakan yang sebenarnya yang terjadi.
Setelah
pengalaman tersebut sang anak dan orangtuanya pindah rumah dan tidak memiliki
pengasuh lagi. Ibu nya yang berhenti bekerja. Setiap kali ia berada di rumah ia
sering menangis dan tak pernah jauh dari sang ibu. Sang anak yang menjadi takut
untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak mau keluar rumah, bahkan tidak mau
berkomunikasi. Hal ini sangat menghawatirkan bagi sang anak karena ketika ia
bersekolah sangat menggangu mental dan psikis anak tersebut. Orang tua yang
terus menghawatirkan anaknya akibat masa trauma yang berkepanjangan dapat
menggangu kesehatan mental anak.
Orangtua
pun datang ketempat terapi dimana ia menginginkan anaknya tidak terlalu
merasakan trauma yang berkepanjangan dari masa kejadian perampok dimasalalu
itu. Dan dapatlah hasil yang sangat memuaskan bahwa saat ini anaknya mau untuk
berinteraksi, berkomunikasi bahkan mau menerima datangnya oranglain dalam
kehidupannya.
Ciptakan
suasana lingkungan aman dan nyaman biar anak selalu dalam kondisi senang dan
bahagia. Sebagai contoh hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dan anggota
keluarga untuk membantu konselor dalam mengelola emosi anak diantaranya adalah
mampu mengendalikan amarah, membuang rasa takut, membuang cemburu dan meredakan
kesedihan.
Daftar
Pustaka
1. Kartini
Kartono. 1985. Bimbingan Konseling dan
Dasar- dasar Pelaksanaan Tehnik Bimbingan Praktik. Jakarta: CV.Rajawali.
2. Kartini
Kartono dan Gulo. 1987. Kamus Psikologi.
Bandung: CV. Pioner Jaya.
3. Latipun.
2011. Psikologi Konseling. Pers Universitas
Muhammadiyah Malang.
4. Katryn
Geldard. 2011. Konseling Keluarga. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
5. Sofyan
S. Willis. 2009. Konseling Keluarga. Bandung:
Alfabeta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar