Sabtu, 18 Juni 2016

FAMILY THERAPY ( TERAPI KELUARGA)

1. Family Therapy ( Terapi Keluarga)
A. Pengertian Family Therapy
Family (keluarga) adalah suatu kelompok individu yang terkait oleh ikatan perkawinan atau darah. Secara khusus mencakup seorang ayah, ibu dan anak. Sedangkan Therapy (terapi) adalah suatu perlakuan atau pengobatan yang ditujukan pada penyembuhan suatu kondisi patologis.
Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah : “Suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota- anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan”.
Terapi Keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah- masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah- masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, konseling yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.

B. Tujuan Family Therapy
Tujuan terapi keluarga oleh para ahli di rumuskan secara berbeda. Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu konseling (anggota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga.
Sedangkan Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam suatu keluarga. Diharapkan keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat realitas, mempertimbangkan alternatif sedapat mungkin dan pola transaksional. Anggota keluarga dapat mengembangkan pola hubungan yang baru dan struktur yang mendapatkan self reinforcing.
Menurut Glick dan Kessler mengemukakan tujuan umum konseling keluarga adalah:
1) Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.
2) Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3) Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukkan kepada anggota lainnya.
Jadi tujuan terapi keluarga adalah membantu konseli untuk mengubah struktur keluarga dengan cara menyusun kembali kerukunan dan kesatuan. Sehingga dapat menyelesaikan perpecahan yang terjadi dalam keluarga dan juga mewadahi atau memfasilitasi komunikasi, pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.

C. Unsur- unsur Family Therapy
Terapi Keluarga didasarkan pada teori system yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama, adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
Prinsip kedua, ekologi yang mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga. Terapi Keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga tanpa adanya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa sistem dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga. 
Jadi, terapi keluarga ada tiga teori system. Pertama, apabila terdapat peristiwa dalam menjalani suatu hubungan anggota keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja melainkan banyak arahan atau efek dari luar keluarga. Dan perilaku tiap anggota keluarga berbeda tingkatan dengan satu dengan lainnya. Prinsip kedua ekologi (lingkungan) setelah ditinjau dari prinsip pertama yang mengemukakan dalam menjalani suatu hubungan anggota keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja, sebab akan berpengaruh oleh perilaku anggota keluarga satu dengan lainnya. Prinsip ketiga, setelah menerima efek dari luar setiap anggota keluarga mempunyai persepsi atau pendapat sendiri dari tiap-tiap masalah.

D. Teknik- Teknik Family Therapy
Beberapa Tehnik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi :
1) Pemeragaan : yaitu dengan cara memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya, ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran- sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama dan komunikasi dalam keluarga paling penting.
2) Homework: yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
3) Family sculpting: cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.
4) Genograms: adalah sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga. Genogram adalah sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga.
5) Tehnik Modifikasi Tingkah Laku: Terdapat kesamaan antara tehnik modifikasi perilaku dan pendekatan strategic, kemudian Gregory Bateson mengembangkannya. Pendekatan ini banyak dikaji oleh peneliti dan terapis.
Jadi, teknik terapi keluarga ada lima yaitu : pemeragaan, homework, family sculpting, genograms, tehnik modifikasi tingkah laku. Teknik-teknik diatas salah satunya dapat digunakan dalam proses terapi. Setiap masalah dapat dikumpulkan data-data dari informasi anggota keluarga, dan mendekatkan diri dengan anggota lainnya.

E. Peran konselor dalam Family Therapy
Peran konselor dalam membantu konseli dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir. Diantaranya sebagai berikut:
1) Konselor berperan sebagai “ facilitative a comfortable”, membantu konseling melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan- tindakannya sendiri.
2) Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3) Konselor menggunakan peran perlakuan atau treatment melalui peran setting interaksi
4) Berusaha menghilangkan pembelaan diri dari keluarga.
5) Mengajarkan konseli untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan melakukan self control.
6) Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterprestasi peran – peran yang disampaikan konseling atau anggota keluarga.
7) Konselor menolak pembuatan penilaian dan membantu menjadi congruence dalam respon- respon anggota keluarga.
8) Konselor tidak boleh menjadi pribadi yang trereotip terhadap urutan kelahiran. Pada saat yang sama, menjelajahi urutan kelahiran dan pengaruhnya pada perkembangan kepribadian seseorang akan sangat memungkinkan untuk dapat memahami orang tersebut.
9) Konselor memiliki banyak peran dalam pendekatan ini antara lain bimbingan, coach, model dan konsultan. Konselor pada konseling keluarga diharapkan mempunyai kemampuan profesional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadian. Konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, membantu mengembangkan penghargaan anggota keluarga terhadap potensi anggota keluarga lain sesuai dengan realitas yang ada pada dirinya dan mempunyai wawasan serta alternatif rencana untuk pengembangannya atas bantuan semua anggota keluarga dan mampu membantu konseling agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya.
Jadi, dalam Family Therapy disini salah satunya konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, dan mampu membantu konseli agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya

F. Proses dan Tahapan Family Therapy
Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Historisnya yaitu dimulai pada diri individu yang menekankan pada aspek intrapsikisnya kemudian berlanjut kepada individu sebagai anggota keluarga sehingga meningkatnya hubungan interpersonal dan komunikasi diantara mereka. Terapi keluarga berfokus pada cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis yang terstruktur dengan dipandang sesuatu yang salah.
Pada mulanya seorang konseli datang dengan konselor untuk mengkonsolidasikan masalahnya. Biasanya datang pertama kali ini lebih bersifat “identifikasi pasien”. Tetapi untuk tahap penanganan (treatment) diperlukan kehadiran anggota keluarga yang lain. Menurut Satir, tidak mungkin mendengarkan peran, status, nilai dan norma keluarga atau kelompok, jika tidak ada kehadiran anggota keluarga yang lain.
Jadi dalam pandangan ini, anggota keluarga yang lain harus datang ke konselor. Kehadiran konseli ke konselor dapat dilangsungkan sampai tiga kali dalam seminggu. Dalam pelaksanaannya, sekalipun bersifat spekulatif, pelaksanaan konseling dapat saja dilakukan secara kombinatif, setelah konseling individual dilanjutkan dengan kelompok atau sebaliknya. Tahapan terapi keluarga secara garis besar proses dalam konseling keluarga adalah:
1) Pengembangan Rapport, merupakan hubungan suasana konseling yang akrab, jujur, saling percaya, sehingga menimbulkan keterbukaan dari konseli. Upaya pengembangan rapport ini ditentukan oleh aspek –aspek diri konselor yakni kontak mata, perilaku non verbal (perilaku attanding, bersahabat/ akrab, hangat, luwes, ramah, jujur, penuh perhatian). Dan bahasa lisan/ verbal yang baik.
2) Pengembangan apresiasi emosional, dimana munculnya kemampuan untuk menghargai perasaan masing- masing anggota keluarga, dan keinginan mereka agar masalah yang mereka hadapi dapat terselesaikan semakin besar.
3) Pengembangan alternatif modus perilaku. Dalam tahap ini, baik konseli maupun anggota keluarga mengembangkan dan melatihkan perilaku- perilaku baru yang disepakati berdasarkan hasil diskusi dalam konseling. Pada tahap ini muncul home assignment, yaitu mencobakan/ mempraktikkan perilaku baru selama masa satu minggu (misalnya) dirumah, kemudian akan dilaporkan pada sesi berikutnya untuk dibahas, evaluasi dan dilakukan tindakan selanjutnya
4) Fase membina hubungan konseling. Adanya acceptance, unconditional positive regard, understanding, genuine, empathy.
5) Memperlancar tindakan positif. Terdiri dari eksplorasi, perencanaan atau pengembangan perencanaan bagi konseli sesuai dengan tujuan untuk memecahkan masalah, kemudian penutup untuk mengevaluasi hasil konseling sampai menutup hubungan konseling.

Menurut conjoint family therapy, langkah/ proses konseling yang dapat ditempuh adalah:
1) Intake interview, building working alliance. Bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan konseling dengan anggota keluar lainnya ( untuk mengungkap kesuksesan dan kegagalan , kekuatan dan kelemahan, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian dan area masalahnya.
2) Case conceptualization and treatment planning, mengenal masalah/ memperjelas masalah, kemudian fokus pada rencana intervensi apa yang akan dilakukan untuk penanganan masalah.
3) Implemention, menerapkan intervensi yang disertai dengan tugas- tugas yang dilakukan bersama antara konseling dan keluarga, contohnya: free drawing art ask ( menggambar bebas mewakili keberadaan mereka baik secara kognitif, emosi, dan peran yang mereka mainkan), home work.
4) Evaluation termination, melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
5) Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.

F. Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Keluarga
Dalam terapi keluarga ada penyelesaian kasus yang ditekankan tentang bagaimana mengubah perilaku anggota keluarga / keluarga dengan memodifikasi gejala atau akibat dari suatu tindakan. Penekanan pada penghilangan perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku positif, diantaranya:
1.      Latihan perilaku orang tua ( behavioral parent training ) Behavioral parent training menunjukkan pada pelatihan keterampilan orang tua. Terapis membantu sebagai pendidik belajar sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk merubah respon orang tua terhadap anak-anaknya. Berubahnya respon orang tua, akan membuat perilaku anak pun berubah. Tipe ini menggunakan metode verbal dan perbuatan.
2.      Terapi pernikahan / suami istri ( mariage/ couples therapies and education )
a.       Analisis perilaku dalam masalah suami istri
b.      Pembalasan yang positif
c.       Pelatihan keterampilan berkomunikasi
d.      Latihan memecahkan masalah
3.      Treatment pada Disfungsi seksual ( treatment of sexual disfunctioning) Digunakan untuk membantu pasangan suami istri yang mengalami gangguan pada hubungan seks mereka, yang kemudian menjadi masalah pasangan. Seperti ejakulasi dini.
4.      Terapi fungsi keluarga ( functional family therapy ) Dalam functional family therapy, pertolongan diberikan apabila hubungan interpersonal antar anggota keluarga dalam keadaan :
a.       Contact/ Closeness ( Merging )
b.      Anggota keluarga sama-sama bersaing di dalam keluarga.
c.       Distance/ Independence ( Separating )
d.      Anggota keluarga saling memisahkan diri, ada jarak diantara mereka.

G.     Contoh Kasus Terapi Keluarga
Terdapat kasus dari seorang anak yang berusia 5 tahun ketika dirumahnya saat itu ia diasuh oleh seorang pengasuh rumah tangga karena orangtua yang bekerja. Suatu hari ketika dirumah sang anak hanya berdua dengan sang pengasuh pada waktu siang hari ia sedang tidur siang, tiba-tiba ada perampok yang memasuki rumah tersebut dan membangunkan anak tersebut dan pengasuh tersebut lalu diikat dan duduk di lantai. Perampok datang dengan perlakuan yang kasar padanya dan pengasuh. Berteriak-teriak menanyakan dimana letak barang berharga seperti uang, perhiasan. Sang anak terus menangis ketakutan. Perampok tersebut memukuli anak tersebut dan pengasuhnya. Ketika perampok itu pergi sang anak dan pengasuh dengan tubuh yang masih terikat kain dan pintu rumah yang tertutup sampai tiba orangtuanya datang pulang dari bekerja dan kaget histeris melihat anaknya dan pengasuhnya dengan keadaan terikat dan duduk dilantai. Orang tua pun langsung mendekat dan menanyakan yang sebenarnya yang terjadi.
Setelah pengalaman tersebut sang anak dan orangtuanya pindah rumah dan tidak memiliki pengasuh lagi. Ibu nya yang berhenti bekerja. Setiap kali ia berada di rumah ia sering menangis dan tak pernah jauh dari sang ibu. Sang anak yang menjadi takut untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak mau keluar rumah, bahkan tidak mau berkomunikasi. Hal ini sangat menghawatirkan bagi sang anak karena ketika ia bersekolah sangat menggangu mental dan psikis anak tersebut. Orang tua yang terus menghawatirkan anaknya akibat masa trauma yang berkepanjangan dapat menggangu kesehatan mental anak.
Orangtua pun datang ketempat terapi dimana ia menginginkan anaknya tidak terlalu merasakan trauma yang berkepanjangan dari masa kejadian perampok dimasalalu itu. Dan dapatlah hasil yang sangat memuaskan bahwa saat ini anaknya mau untuk berinteraksi, berkomunikasi bahkan mau menerima datangnya oranglain dalam kehidupannya.

Ciptakan suasana lingkungan aman dan nyaman biar anak selalu dalam kondisi senang dan bahagia. Sebagai contoh hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dan anggota keluarga untuk membantu konselor dalam mengelola emosi anak diantaranya adalah mampu mengendalikan amarah, membuang rasa takut, membuang cemburu dan meredakan kesedihan.

Daftar Pustaka
1.      Kartini Kartono. 1985. Bimbingan Konseling dan Dasar- dasar Pelaksanaan Tehnik Bimbingan Praktik. Jakarta: CV.Rajawali.  
2.      Kartini Kartono dan Gulo. 1987. Kamus Psikologi. Bandung: CV. Pioner Jaya.
3.      Latipun. 2011. Psikologi Konseling. Pers Universitas Muhammadiyah Malang.
4.      Katryn Geldard. 2011.  Konseling Keluarga.  Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
5.      Sofyan S. Willis. 2009. Konseling Keluarga. Bandung: Alfabeta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar