Sabtu, 18 Juni 2016

TERAPI KELOMPOK

1.                  Terapi kelompok
A.                      Pengertian Terapi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama.
Terapi Kelompok adalah salah satu metoda Pekerjaan sosial yang menggunakan kelornpok sebagai rnedia dalam proses pertolongan profesionalnya. Dalam literature Pekeriaan Sosial metode ini sering disebut sebagai groupwork atau group theraphy. Praktik Pekerjaan Sosial dalam kelompok bukanlah fenomena baru. Di Amerika, misalnya, metode ini telah diterapkan lebih dari setengah abad yang lalu. Pada saat itu para Pekerja sosial meyakini bahwa intervensi yang berbasis pada kelornpok sangat efektif dan efisien dalam memecahkan rnasalah individu maupun masalah sosial.
Terapi Kelompok mirip dengan masalah-masalah yang ditangani oleh Terapi lndividu seperti konseling. Yang membedakan dengan Terapi lndividu adalah pendekatannya. Terapi Kelompok tidak menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan, melainkan menggunakan kelompok sebagai media penyembuhan. lndividu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh seorang atau satu tim pekerja Sosial.

B.                       Tujuan Terapi Kelompok
Menurut Hartford dan Alissi metode Terapi Kelompok digunakan untuk memelihara atau memperbaiki keberfungsian personal dan sosial para anggota kelompok dalam beragam tujuan, yakni
1.                        tujuan korektif
2.                         tujuan preventif,
3.                        tujuan pertumbuhan sosial norma,
4.                        tujuan peningkatan personal
5.                         tujuan peningkatan partisipasi dari tanggungjawab masyarakat
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam terapi kelompok antara lain :
1.                       Membantu anggotanya menghadapi stress dalam kehidupan, berfokus pada disfungsi perasaan, pikiran dan perilaku.
2.                       Menawarkan dukungan kepada klien dari seorang terapis selama periode krisis, atau dekompensasi sementara, memulihkan, dan memperkuat pertahanan sementara serta mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu
3.                        Mempertahankan homeostasis terhadap adanya perubahan yang tidak diperkirakan sebelumnya maupun kejadian yang terjadi secara bertahap.
4.                       Menurunkan rasa terisolasi, meningkatkan penyesuaian kembali dan juga hubungan bagi
komunitas yang bermasalah serta meningkatkan kemampuan memecahkan masalah

C.                      Kelebihan dan Kelemahan Terapi Kelompok
Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut
1. Kelebihan Terapi Kelompok
a. Keterbukaan antar anggota kelompok untuk member dan menerima informasi dan pendapat anggota lain.
b. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan
menekan kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok.
c.  Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan norma yang telah
disepakati oleh kelompok.
2.                    Kekurangan Terapi Kelompok
Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak
anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas
            pertemuan.

D. Komponen Kelompok dalam Terapi Kelompok
1. Struktur kelompok
Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
2.                       Besar kelompok
Menurut Dr. Wartono (1976) dalam Yosep (2007), Jumlah ideal anggota kelompok 7-8 orang. Jumlah minimum anggota kelompok berkisar 4 orang dan jumlah maksimum 10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika
terlalu kecil maka tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi.
3.                       Lamanya sesi
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20 – 40 menit untuk fungsi terapi rendah, dan 60 – 120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Biasanya dimulai dengan orientasi, kemudian tahap kerja dan terminasi. Frekuensi pertemuan dapat disesuaikan dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
4.                       Komunikasi
Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobsevasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetisi, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan.
5.                       Peran kelompok
Pemimpin (leader) harus memiliki kemampuan dalam proses yang terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi, peningkatan intonasi suara, sikap menghakimi antar anggota kelompok selama interaksi berlangsung. Dengan kata lain pemimpin harus peka terhadap adanya konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan pengetahuan menyeluruh terhadap kelompok, pengetahuan tentang topic atau isu yang sedang didiskusikan dalam kelompok. Selain itu juga pemimpin harus memiliki kemampuan mempresentasikan topic dengan bahasa yang dapat di mengerti oleh anggota kelompok.      
6.                       Kekuatan kelompok
Kekuatan kelompok adalah kemampuan anggota kelompok dalam mempengaruhi jalannya kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok
7.                       Norma kelompok
Norma adalah standar perilaku dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pengalaman masa laludan saat ini. Pemahaman tentang norma berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.
8.                       Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan antar anggota kelompok bekerjasama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk tertarik dan puas terhadap kelompoknya. Terapis perlu melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, selain mengelompokkan anggota yang memiliki masalah yang sama. Terapis juga menciptakan kekohesifan dengan cara mendorong kelompok untuk berbicara satu sama lainnya. Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota member pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lainnya.

E.                      Cara Melakukan Terapi Kelompok
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam terapi kelompok adalah:
1.                       Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.
2.                        Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.
3.                       Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur. Minat dan ketertarikan individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena anggota yang memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur.
4.                       Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
Taraf permulaan. Dalam langkah ini, terapis perlu membicarakan apakah waktu yang telah ditentukan dan disepakati bersama itu tetap bisa dilaksanakan, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara anggota yang satu dengan yang lainnya karena tiap anggota harus saling menghormati agar apabila anggota yang satu sedang berbicara maka anggota yang lain dapat memperhatikan, adanya keterbukaan antara anggota yang satu dengan yang lain serta dengan terapis, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara anggota kelompok dengan terapis, serta adanya kesepakatan untuk menjaga kerahasiaan. Mengembangkan dan memelihara situasi kelompok. Melakukan diskusi, saling berbagi pendapat dan pengalaman, serta memecahkan masalah
5.                       Tahap Evaluasi dan Terminasi
Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.

F.                      Manfaat Terapi Kelompok
Dapat mengidentifikasi masalah bersama orang lain yang memiliki permasalahan yang sama Dapat membantu klien untuk meningkatkan hubungan interpersonal dengan klien lain sehingga setiap dari mereka dapat saling mendukung Dapat membantu menghilangkan perasaan-perasaan terisolasi dalam diri klien Dapat membantu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang dirasakan oleh klien Dapat mendorong klien untuk membicarakan perasaan-perasaan batinnya dengan sepenuh hati Dapat membantu klien untuk melepaskan ketegangan dalam diri yang telah dipendam Dapat meningkatkan klien untuk berpartisipasi serta bertukar pikiran dan masalah dengan orang lain.

G.                     Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Kelompok
Terapi kelompok dapat menjadi terapi pilihan untuk orang yang masalahnya terutama antar pribadi dan yang tidak mengalami gangguan psikiatrik utama. Terapi kelompok juga baik untuk orang yang hanya memerlukan tempat dimana ia dapat mencoba perilaku yang baru dan mempraktekkan keterampilan sosial yang baru. Berikut kasus-kasusnya :
1.                   Kecanduan alcohol, obat-obat terlarang dan rokok
2.                   Kekerasan seksual
3.                   Stress dalam menghadapi penyakit yang di derita
4.                   Trauma
5.                   Korban bullying
6.                   Insomnia
7.                   Permasalahan hubungan sosial
8.                   Orang yang mengalami masalah emosional
9.                   Siswa yang mengalami kesulitan belajar

Contoh Kasus:
Alice, 54 tahun. Ketika keluarganya akhirnya membujuknya untuk berobat ke klinik rehabilitasi alkohol. Ia jatuh terguling tangga kamar tidurnya saat dalam keadaan mabuk, dan mungkin kejadian tersebut yang akhirnya membuatnya mengakui bahwa ada yang salah dengan dirinya. Kebiasaan minumnya menjadi tidak terkendali selama beberapa tahun terakhir. Ia mengawali hari dengan minum, berlanjut sepanjang pagi, dan pada siang hari ia berada dalam kondisi mabuk total. Ia jarang ingat tentang berbagai hal yang terjadi selepas tengah hari. Sejak awal masa dewasa ia minum secara rutin, namun jarang pada siang hari dan tidak pernah sampai mabuk. Kematian suaminya secara mendadak dalam sebuah kecelakaan mobil dua tahun sebelumnya telah memicu peningkatan frekuensi minumnya, dan dalam enam bulan kebiasaan minumnya telah berubah menjadi pola penyalahgunaan alkohol yang parah. Ia tidak memiliki keinginan untuk keluar rumah dan berhenti melakukan berbagai aktivitas sosial dengan keluarga dan teman-temannya. Upaya yang berulang kali dilakukan keluarganya untuk membuatnya membatasi konsumsi alkohol hanya memicu pertengkaran.
Terapi yang cocok untuk kasus diatas adalah terapi kelompok. Dengan terapi kelompok klien mendapat kesempatan untuk belajar cara berinteraksi sosial atau bersosialisasi, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut klien dilatih untuk tidak menarik diri ataupun menghindar dan klien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain.

Daftar Pustaka:
1.                       Kompasiana. Ketergantungan dan Penyalahgunaan Alkohol. (diakses 13/07/2015) http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2014/01/07/ketergantungan-dan-penyalahgunaan-alkohol-622963.html
2.                       Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: KANISIUS
3.                       Suharto, E. (2007). Pekerjaan Sosial di Dunia Industri – CSR. Bandung: Refika Aditama


Tidak ada komentar:

Posting Komentar