Sabtu, 18 Juni 2016

FAMILY THERAPY ( TERAPI KELUARGA)

1. Family Therapy ( Terapi Keluarga)
A. Pengertian Family Therapy
Family (keluarga) adalah suatu kelompok individu yang terkait oleh ikatan perkawinan atau darah. Secara khusus mencakup seorang ayah, ibu dan anak. Sedangkan Therapy (terapi) adalah suatu perlakuan atau pengobatan yang ditujukan pada penyembuhan suatu kondisi patologis.
Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah : “Suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota- anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan”.
Terapi Keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah- masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah- masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, konseling yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.

B. Tujuan Family Therapy
Tujuan terapi keluarga oleh para ahli di rumuskan secara berbeda. Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu konseling (anggota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga.
Sedangkan Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam suatu keluarga. Diharapkan keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat realitas, mempertimbangkan alternatif sedapat mungkin dan pola transaksional. Anggota keluarga dapat mengembangkan pola hubungan yang baru dan struktur yang mendapatkan self reinforcing.
Menurut Glick dan Kessler mengemukakan tujuan umum konseling keluarga adalah:
1) Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.
2) Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3) Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukkan kepada anggota lainnya.
Jadi tujuan terapi keluarga adalah membantu konseli untuk mengubah struktur keluarga dengan cara menyusun kembali kerukunan dan kesatuan. Sehingga dapat menyelesaikan perpecahan yang terjadi dalam keluarga dan juga mewadahi atau memfasilitasi komunikasi, pikiran dan perasaan antara anggota keluarga.

C. Unsur- unsur Family Therapy
Terapi Keluarga didasarkan pada teori system yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama, adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
Prinsip kedua, ekologi yang mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga. Terapi Keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga tanpa adanya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa sistem dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga. 
Jadi, terapi keluarga ada tiga teori system. Pertama, apabila terdapat peristiwa dalam menjalani suatu hubungan anggota keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja melainkan banyak arahan atau efek dari luar keluarga. Dan perilaku tiap anggota keluarga berbeda tingkatan dengan satu dengan lainnya. Prinsip kedua ekologi (lingkungan) setelah ditinjau dari prinsip pertama yang mengemukakan dalam menjalani suatu hubungan anggota keluarga tidak dapat ditentukan oleh satu arah saja, sebab akan berpengaruh oleh perilaku anggota keluarga satu dengan lainnya. Prinsip ketiga, setelah menerima efek dari luar setiap anggota keluarga mempunyai persepsi atau pendapat sendiri dari tiap-tiap masalah.

D. Teknik- Teknik Family Therapy
Beberapa Tehnik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi :
1) Pemeragaan : yaitu dengan cara memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya, ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran- sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama dan komunikasi dalam keluarga paling penting.
2) Homework: yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
3) Family sculpting: cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.
4) Genograms: adalah sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga. Genogram adalah sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga.
5) Tehnik Modifikasi Tingkah Laku: Terdapat kesamaan antara tehnik modifikasi perilaku dan pendekatan strategic, kemudian Gregory Bateson mengembangkannya. Pendekatan ini banyak dikaji oleh peneliti dan terapis.
Jadi, teknik terapi keluarga ada lima yaitu : pemeragaan, homework, family sculpting, genograms, tehnik modifikasi tingkah laku. Teknik-teknik diatas salah satunya dapat digunakan dalam proses terapi. Setiap masalah dapat dikumpulkan data-data dari informasi anggota keluarga, dan mendekatkan diri dengan anggota lainnya.

E. Peran konselor dalam Family Therapy
Peran konselor dalam membantu konseli dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir. Diantaranya sebagai berikut:
1) Konselor berperan sebagai “ facilitative a comfortable”, membantu konseling melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan- tindakannya sendiri.
2) Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3) Konselor menggunakan peran perlakuan atau treatment melalui peran setting interaksi
4) Berusaha menghilangkan pembelaan diri dari keluarga.
5) Mengajarkan konseli untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan melakukan self control.
6) Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterprestasi peran – peran yang disampaikan konseling atau anggota keluarga.
7) Konselor menolak pembuatan penilaian dan membantu menjadi congruence dalam respon- respon anggota keluarga.
8) Konselor tidak boleh menjadi pribadi yang trereotip terhadap urutan kelahiran. Pada saat yang sama, menjelajahi urutan kelahiran dan pengaruhnya pada perkembangan kepribadian seseorang akan sangat memungkinkan untuk dapat memahami orang tersebut.
9) Konselor memiliki banyak peran dalam pendekatan ini antara lain bimbingan, coach, model dan konsultan. Konselor pada konseling keluarga diharapkan mempunyai kemampuan profesional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadian. Konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, membantu mengembangkan penghargaan anggota keluarga terhadap potensi anggota keluarga lain sesuai dengan realitas yang ada pada dirinya dan mempunyai wawasan serta alternatif rencana untuk pengembangannya atas bantuan semua anggota keluarga dan mampu membantu konseling agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya.
Jadi, dalam Family Therapy disini salah satunya konselor diharapkan mampu mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi- emosi tertentu, dan mampu membantu konseli agar dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya

F. Proses dan Tahapan Family Therapy
Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Historisnya yaitu dimulai pada diri individu yang menekankan pada aspek intrapsikisnya kemudian berlanjut kepada individu sebagai anggota keluarga sehingga meningkatnya hubungan interpersonal dan komunikasi diantara mereka. Terapi keluarga berfokus pada cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis yang terstruktur dengan dipandang sesuatu yang salah.
Pada mulanya seorang konseli datang dengan konselor untuk mengkonsolidasikan masalahnya. Biasanya datang pertama kali ini lebih bersifat “identifikasi pasien”. Tetapi untuk tahap penanganan (treatment) diperlukan kehadiran anggota keluarga yang lain. Menurut Satir, tidak mungkin mendengarkan peran, status, nilai dan norma keluarga atau kelompok, jika tidak ada kehadiran anggota keluarga yang lain.
Jadi dalam pandangan ini, anggota keluarga yang lain harus datang ke konselor. Kehadiran konseli ke konselor dapat dilangsungkan sampai tiga kali dalam seminggu. Dalam pelaksanaannya, sekalipun bersifat spekulatif, pelaksanaan konseling dapat saja dilakukan secara kombinatif, setelah konseling individual dilanjutkan dengan kelompok atau sebaliknya. Tahapan terapi keluarga secara garis besar proses dalam konseling keluarga adalah:
1) Pengembangan Rapport, merupakan hubungan suasana konseling yang akrab, jujur, saling percaya, sehingga menimbulkan keterbukaan dari konseli. Upaya pengembangan rapport ini ditentukan oleh aspek –aspek diri konselor yakni kontak mata, perilaku non verbal (perilaku attanding, bersahabat/ akrab, hangat, luwes, ramah, jujur, penuh perhatian). Dan bahasa lisan/ verbal yang baik.
2) Pengembangan apresiasi emosional, dimana munculnya kemampuan untuk menghargai perasaan masing- masing anggota keluarga, dan keinginan mereka agar masalah yang mereka hadapi dapat terselesaikan semakin besar.
3) Pengembangan alternatif modus perilaku. Dalam tahap ini, baik konseli maupun anggota keluarga mengembangkan dan melatihkan perilaku- perilaku baru yang disepakati berdasarkan hasil diskusi dalam konseling. Pada tahap ini muncul home assignment, yaitu mencobakan/ mempraktikkan perilaku baru selama masa satu minggu (misalnya) dirumah, kemudian akan dilaporkan pada sesi berikutnya untuk dibahas, evaluasi dan dilakukan tindakan selanjutnya
4) Fase membina hubungan konseling. Adanya acceptance, unconditional positive regard, understanding, genuine, empathy.
5) Memperlancar tindakan positif. Terdiri dari eksplorasi, perencanaan atau pengembangan perencanaan bagi konseli sesuai dengan tujuan untuk memecahkan masalah, kemudian penutup untuk mengevaluasi hasil konseling sampai menutup hubungan konseling.

Menurut conjoint family therapy, langkah/ proses konseling yang dapat ditempuh adalah:
1) Intake interview, building working alliance. Bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan konseling dengan anggota keluar lainnya ( untuk mengungkap kesuksesan dan kegagalan , kekuatan dan kelemahan, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian dan area masalahnya.
2) Case conceptualization and treatment planning, mengenal masalah/ memperjelas masalah, kemudian fokus pada rencana intervensi apa yang akan dilakukan untuk penanganan masalah.
3) Implemention, menerapkan intervensi yang disertai dengan tugas- tugas yang dilakukan bersama antara konseling dan keluarga, contohnya: free drawing art ask ( menggambar bebas mewakili keberadaan mereka baik secara kognitif, emosi, dan peran yang mereka mainkan), home work.
4) Evaluation termination, melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
5) Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.

F. Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Keluarga
Dalam terapi keluarga ada penyelesaian kasus yang ditekankan tentang bagaimana mengubah perilaku anggota keluarga / keluarga dengan memodifikasi gejala atau akibat dari suatu tindakan. Penekanan pada penghilangan perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku positif, diantaranya:
1.      Latihan perilaku orang tua ( behavioral parent training ) Behavioral parent training menunjukkan pada pelatihan keterampilan orang tua. Terapis membantu sebagai pendidik belajar sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk merubah respon orang tua terhadap anak-anaknya. Berubahnya respon orang tua, akan membuat perilaku anak pun berubah. Tipe ini menggunakan metode verbal dan perbuatan.
2.      Terapi pernikahan / suami istri ( mariage/ couples therapies and education )
a.       Analisis perilaku dalam masalah suami istri
b.      Pembalasan yang positif
c.       Pelatihan keterampilan berkomunikasi
d.      Latihan memecahkan masalah
3.      Treatment pada Disfungsi seksual ( treatment of sexual disfunctioning) Digunakan untuk membantu pasangan suami istri yang mengalami gangguan pada hubungan seks mereka, yang kemudian menjadi masalah pasangan. Seperti ejakulasi dini.
4.      Terapi fungsi keluarga ( functional family therapy ) Dalam functional family therapy, pertolongan diberikan apabila hubungan interpersonal antar anggota keluarga dalam keadaan :
a.       Contact/ Closeness ( Merging )
b.      Anggota keluarga sama-sama bersaing di dalam keluarga.
c.       Distance/ Independence ( Separating )
d.      Anggota keluarga saling memisahkan diri, ada jarak diantara mereka.

G.     Contoh Kasus Terapi Keluarga
Terdapat kasus dari seorang anak yang berusia 5 tahun ketika dirumahnya saat itu ia diasuh oleh seorang pengasuh rumah tangga karena orangtua yang bekerja. Suatu hari ketika dirumah sang anak hanya berdua dengan sang pengasuh pada waktu siang hari ia sedang tidur siang, tiba-tiba ada perampok yang memasuki rumah tersebut dan membangunkan anak tersebut dan pengasuh tersebut lalu diikat dan duduk di lantai. Perampok datang dengan perlakuan yang kasar padanya dan pengasuh. Berteriak-teriak menanyakan dimana letak barang berharga seperti uang, perhiasan. Sang anak terus menangis ketakutan. Perampok tersebut memukuli anak tersebut dan pengasuhnya. Ketika perampok itu pergi sang anak dan pengasuh dengan tubuh yang masih terikat kain dan pintu rumah yang tertutup sampai tiba orangtuanya datang pulang dari bekerja dan kaget histeris melihat anaknya dan pengasuhnya dengan keadaan terikat dan duduk dilantai. Orang tua pun langsung mendekat dan menanyakan yang sebenarnya yang terjadi.
Setelah pengalaman tersebut sang anak dan orangtuanya pindah rumah dan tidak memiliki pengasuh lagi. Ibu nya yang berhenti bekerja. Setiap kali ia berada di rumah ia sering menangis dan tak pernah jauh dari sang ibu. Sang anak yang menjadi takut untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak mau keluar rumah, bahkan tidak mau berkomunikasi. Hal ini sangat menghawatirkan bagi sang anak karena ketika ia bersekolah sangat menggangu mental dan psikis anak tersebut. Orang tua yang terus menghawatirkan anaknya akibat masa trauma yang berkepanjangan dapat menggangu kesehatan mental anak.
Orangtua pun datang ketempat terapi dimana ia menginginkan anaknya tidak terlalu merasakan trauma yang berkepanjangan dari masa kejadian perampok dimasalalu itu. Dan dapatlah hasil yang sangat memuaskan bahwa saat ini anaknya mau untuk berinteraksi, berkomunikasi bahkan mau menerima datangnya oranglain dalam kehidupannya.

Ciptakan suasana lingkungan aman dan nyaman biar anak selalu dalam kondisi senang dan bahagia. Sebagai contoh hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dan anggota keluarga untuk membantu konselor dalam mengelola emosi anak diantaranya adalah mampu mengendalikan amarah, membuang rasa takut, membuang cemburu dan meredakan kesedihan.

Daftar Pustaka
1.      Kartini Kartono. 1985. Bimbingan Konseling dan Dasar- dasar Pelaksanaan Tehnik Bimbingan Praktik. Jakarta: CV.Rajawali.  
2.      Kartini Kartono dan Gulo. 1987. Kamus Psikologi. Bandung: CV. Pioner Jaya.
3.      Latipun. 2011. Psikologi Konseling. Pers Universitas Muhammadiyah Malang.
4.      Katryn Geldard. 2011.  Konseling Keluarga.  Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
5.      Sofyan S. Willis. 2009. Konseling Keluarga. Bandung: Alfabeta.



Senin, 28 Maret 2016

LOGOTHERAPY


A. Pengertian dan Gambaran Umum

Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.

B. Konsep Utama

Teori tentang kodrat manusia dalam Logoterapi dibangun diatas tiga asumsi dasar, dimana antara yang satu dengan yang lainnya saling menopang, yakni:
a. Kebebasan berkehendak ( Freedom of Will )
Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab.
b. Kehendak Hidup Bermakna ( The Will to Meaning )
Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik ( to pull )dan menawari ( to offer ) bukannya mendorong ( to push ). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
c. Makna Hidup ( The Meaning Of Life )
Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu.


C. Tiga Sumber Makna Hidup

Ada 3 cara yang dikemukakan oleh logotherapy untuk menuntun pada pencarian arti kehidupan, yaitu:

1. Nilai – nilai daya cipta; yang menyangkut pemberian kepada dunia, diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif.
2. Nilai – nilai pengalaman, menyangkut penerimaan dari dunia, diwujudakan dengan menyerahkan diri kepada keindahan yang ada di alam sekitar atau seni.
3. Nilai-nilai sikap. Situasi-situasi yang menimbulkan nilai-nilai sikap ialah situasi-siatuasi dimana manusia tak mampu mengubah atau menghindari situasi tersebut. Cara bagaiman manusia menerima situasi tersebut, keberanian dalam menahan penderitaan tersebut, kebijaksanaan yang kita perlihatkan ketika berhadapan dengan bencana marupakan ujian dan ukuran terakhir dari pemenuhan kita sebagai manusia.


D. Tujuan Logoterapi

Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
a. Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap
orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
b. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;
c. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.


E. Asas Logo Terapi

Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:
1. Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.
2. Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas– untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
3. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar.


F. Aplikasi Klinis

1. Intensi Paradoksikal
Intensi paradoksikal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti. Landasan dari intensi paradoksikal adalah kemampuan manusia untuk mengambil jarak atau bebas bersikap terhadap dirinya sendiri. Contohnya, individu yang menghindari eritrofobia selalu cemas kalau-kalau dirinya gemetaran dan mandi keringat ketika berada di dalam ruangan yang penuh dengan orang. Kemudian, karena telah ada antisipasi sebelumnya, individu benar-benar gemetaran dan mandi keringat ketika dia memasuki ruangan yang penuh dengan orang. Individu pengidap eritrofobia ini berada dalam lingkaran setan. Gejala gemetaran dan mandi keringat menghasilkan kecemasan, kemudian kecemasan antisipatori ini menimbulkan gejala-gejala gemetaran dan mandi keringat. Jadi gejala antisipatori mengurung individu di dalam kecemasan terhadap kecemasan


2. Derefleksi
Derefleksi merupakan teknik yang mencoba untuk mengalihkan perhatian berlebihan ini pada suatu hal di luar individu yang lebih positif. Pasien dengan teknik ini diderefleksikan dari gangguan yang dialaminya kepada tugas tertentu dalam hidupnya atau dengan perkataan lain dikonfrontasikan dengan makna. Apabila fokus dorongan beralih dari konflik kepada tujuan-tujuan yang terpusat pada diri sendiri, maka hidup seseorang secara keseluruhan menjadi lebih sehat, meskipun boleh jadi neurosisnya tidak hilang sama sekali.


3. Bimbingan Rohani
Pada metode ini, individu didorong untuk merealisasikan nilai bersikap dengan menunjukkan sikap positif terhadap penderitaanya dalam rangka menemukan makna di balik penderitaan tersebut.


G. Logoterapi sebagai Teori Kepribadian

Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut: Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness). Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis) mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).


H. Therapist Role and Function

Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented).Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut. Logoterapi berusaha membuat pasien menyadari secara tanggungjawab dirinya dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, atau kepada siapa dia merasa bertanggungjawab. Logoterapi tidak menggurui atau berkotbah melainkan pasien sendiri yang harus memutuskan apakah tugas hidupnya bertanggung jawab terhadap masyarakat, atau terhadap hati nuraninya sendiri. Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter,yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.

Fungsi dan Peran Terapis
1. Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah
2. Mengendalikan filsafat pribadi
3. Terapis bukan guru atau pengkhotbah
4. Memberi makna lagi pada hidup
5. Memberi makna lagi pada penderitaan
6. Menekankan makna kerja
7. Menekankan makna cinta

I. Tahapan Konseling Logoterapi

Tahap utama Proses konseling logoterapi
• Tahap perkenalan dan pembinaan rapport.
• Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah.
Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi.
• Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba member interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli.


J. Kelebihan Logoterapi

Logoterapi mengajarkan bahwa setiap kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan, makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup kita tidak lagi kosong jika kita menemukan suatu sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita

K. Kekurangan Logoterapi

Ada beberapa klien yang tidak dapat menunjukan makna hidupnya sehingga timbul suatu kebosanan merupakan ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat apatis, perasaan tanpa makna, hampa, gersang, merasa kehilangan tujuan hidup, meragukan kehidupan. Sehingga menyulitkan konselor untuk melakukan terapi kepada klien tersebut.


Referensi:

Bastaman, Djumhana, dkk. (1995). Integrasi Psikologi dengan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




Sabtu, 26 Maret 2016

PERSON CENTERED THERAPY

Terapi Client Centered
a.    Pengertian Client- Centered
            Carl R. Rogers mengembangkan terapi clien centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan- keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client centererd adalah cabang dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Menurut Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan bahwa:’ terapi client centered merupakan tekhnik konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri, klien dibiarkan untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi.
            Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner dan konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri.17 Sedangkan menurut Prayitno dan Erman Amti terapi client centered adalah klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran- pikirannya secara bebas. Pendekatan ini juga mengatakan bahwa seseorang yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasinya maslah sendiri.18
            Jadi terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, yang mana seorang konselor hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar dari masalah yang dihadapinya.
b. Ciri-Ciri Pendekatan Client Centered
Berikut ini uraian ciri-ciri pendektan Client Centered dari Rogers :
1.      Client dapat bertanggung jawab, memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah dan memilih perliku yang dianggap pantas bagi dirinya.
2.      Menekankan dunia fenomenal client. Dengan empati dan pemahaman  terhadap client, terapis memfokuskan pada persepsi diri client dan persepsi client terhadap dunia.
3.      Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkana bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoteraputik terjadi karena hubungan konselor dan client. Karena hal ini tidak dapat dilakukan sendirian (client).
4.      Efektifitas teraputik didasarkan pada sifat-sifat ketulusan, kehangatan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.
Pendekatan ini bukanlah suatu sekumpulan teknik ataupun dogma. Tetapi berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan dimana dalam proses terapi, terapis dan client memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbunhan.
c. Tujuan Pendeketan Terapi
Terdapat beberapa tujuan pendekatan terapi Client Centered yaitu sebagai berikut :
a. Keterbukaan pada Pengalaman
Sebagai lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalamam menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu hadir di luar dirinya.
b. Kepercayaan pada Organisme Sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Dengan meningknya keterbukaan klien terhadap pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri pun muali timbul.
c. Tempat Evaluasi Internal
Tempat evaluasi internal ini berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Orang semakin menaruh perhatian pada pusat dirinya dari pada mencari pengesahan bagi kepribadiannya dari luar. Dia mengganti persetujuan universal dari orang lain dengan persetujuan dari dirinya sendiri. Dia menetapkan standar-standar tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
d. Kesediaan untuk menjadi Satu Proses.
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian merupakan lawan dari konsep diri sebagai produk. Walaupun klien boleh jadi menjalani terapi untuk mencari sejenis formula guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi mereka menjadi sadar bahwa peretumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Para klien dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan kepercayaan-kepercayaannya serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru, bahkan beberapa revisi.
d. Tujuan Konseling
Tujuan Konseling dengan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
1.      Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya .
2.      Membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaanyang lebih besar kepada dirinya,keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan meningkatkan spontanitas hidupnya.
3.      menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
4.      Konseling cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.
e. Hubungan Konselor dengan Klien
            Konsep hubungan antara terapis dan client dalam pendekatan ini ditegaskan oleh pernyataan Rogers (1961) “jika saya bisa menyajikan suatu tipe hubungan, maka orang lain akan menemukan dalam dirinya sendiri kesanggupan menggunakan hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan, sehingga perkembangan peribadipun akan terjadi. Ada enam kondisi yang diperlukan dan memadahi bagi perubahan kepribadian :
1.      Dua orang berada dalam hubungan psikologis.
2.      Orang pertama disebut client, ada dalam keadaan tidak selaras, peka dan cemas.
3.      Orang kedua disebut terapis, ada dalam keadaan selaras atau terintegrasi dalam berhubungan.
4.      Terapis merasakan perhatian positif tak bersyarat terhadap client.
5.      terapis merasakan pengertian yang empatikterhadap kerangka acuan internal client dan berusaha mengkomunikasikan perasaannya ini kepad terapis.
6.      Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak bersyarat dari terapis kepada client setidak-tidaknya dapat dicapai.
Ada tiga ciri atau sikap terapis yang membentuk bagian tengan hubungan teraputik :
Pertama, Keselarasana/kesejatian. Konsep kesejatian yang dimaksud Rogers adalah bagaimana terapis tampil nyata, utuh, otentik dan tidak palsu serta terinytgrasi selama pertemuan terapi. Terapis bersikap secara spontan dan terbuka menyatakan sikap-sikap yang ada pada dirinya baik yang positif maupun negatif. Terapis tidak diperkenankan terlibat secara emosional dan berbagi perasaan-perasaan secara impulsive terhadap  client. Hal ini dapat menghambat proses terapi. Jelas bahwa pendekatan client centered berasumsi bahwa jika terapi selaras/menunjukkan kesejatiannya dalam berhubungan dengan client maka proses teraputic bisa berlangsung.
Kedua, Perhatian positif tak bersayarat. Perhatian tak bersayarat itu tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian terhadap pemikiran-pemikiran dan tingkah laku client sebagai hal yang buruk atau baik. Perhatian tak bersyarat bkan sikap “Saya mau menerima asalkan…..melainkan “Saya menerima anda apa adanya”. Perhatian tak bersyarat itu seperti continuum. Semakin besar derajat kesukaan, perhatian dan penerimaan hangat terhadap client, maka semakin besar pula peluang untuk menunjung perubahan pada client.
Ketiga, Pengertian empatik yang akurat. Pada bagian ini merupakan hal yang sangat krusial, dimana terapis benar-benar dituntut untuk menggunakan kemampuan inderanya dalam berempati guna mengenali dan menjelajahi pengalaman subjektif dari client. Konsep ini menyiratkan terapis memahami perasaan-perasaan client yang seakan-akan perasaanya sendiri. Tugas yang makin rumit adalah memahami perasaan client yang samar dan memberikan makna yang makin jelas. Tugas terapis adalah membantu kesadaran client terhadap perasaan-perasaan yang dialami. Regers percaya bahwa apabila terapis mampu menjangkau dunia pribadi client sebagaimana dunia pribadi itu diamati dan dirasakan oleh client, tanpa kehilangan identitas dirinya yang terpisah dari client, maka perubahan yang konstruktif akan terjadi.
f. Proses Konseling
Proses-proses yang terjadi dalam konseling dengan menggunakan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
1.      Konseling memusatkan pada pengalaman individual.
2.      Konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam, dan memaksimalkan dan serta menopang eksplorasi diri. Perubahan perilaku datang melalui pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya, membuatnya untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada pertumbuhan.
3.      Melalui penerimaan terhadap klien, konselor membantu untuk menyatakan, mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelunya ke dalam konsep diri.
4.      Dengan redefinisi, pengalaman, individu mencapai penerimaan diri dan menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh.
5.      Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.
g.    Kelemahan dan kelebihan client centered therapy
a.      Kelebihan pendekatan client centered therapy
1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada therapist
2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6.      Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis
7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

b.    Kekurangan Pendekatan client centered therapy
1.   Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2.   Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3.   Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.   Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.   Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.   Terapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7.   Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8.   Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya
Daftar Pustaka
Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:  PT Refika Aditama
Gillon, W. 2007. Person Centred Counseling Psychology and Introduction. Sage Publications: London



Jumat, 18 Maret 2016

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL (TUGAS 2)

PENGERTIAN TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

            Psikologi humanistik (Humanistic Psychology) di buat oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga”.Tokoh-tokoh dalam konseling eksistensial-humanistik yaitu, Abraham Maslow, Carl H. Rogers, Holo May, Bagental, Yourard dan Arbuckle. 
            Terapi eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan, keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab atas dirinya1.
            Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.2
            Sedangkan menurut W.S Winkel, Terapi Eksistensial Humanistik adalah Konseling yang menekankan implikasi – implikasi dan falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia di bumi ini. Konseling Eksistensial Humanistik berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta, yang mencakup tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin. Usaha untuk menemukan makna diri kehidupan manusia, keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain, kematian serta kecenderungan untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin.3
            Terapi eksistensial tidak terikat pada salah seorang pelopor, akan tetapi eksistensial memiliki banyak pengembang, tetapi yang populer adalah Victor Frankl, Rollo May, irvin Yalom, James Bugental, dan Medard Boss. Eksistensialisme bersama-sama dengan psikologi humanistik, muncul untuk merespon dehumanisasi yang timbul sebagai efek samping dari perkembangan industri dan urbanisasi masyarakat. Pada waktu itu banyak orang membutuhkan kekuatan untuk mengembalikan sense of humannes disamping untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebermaknaan hidup, khususnya yang berkaitan dengan upaya menghadapi kehancuran, isolasi, dan kematian.

1. Tujuan Eksistensial Humanistik
            Tujuan mendasar eksistensial humanistik adalah membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan dalam hidup manusia sendiri. Juga diarahkan untuk membantu klien agar menjadi lebih sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak, dan kemudian membantu mereka membuat pilihan hidup yang memungkinkannya dapat mengaktualisasikan diri dan mencapai kehidupan yang bermakna.

2. Ciri-ciri Eksistensial Humanistik
            Adapun ciri-ciri dari terapi eksistensial humanistik adalah sebagai berikut:
1. Eksistensialisme bukanlah suatu aliran melainkan suatu gerakan yang memusatkan penyelidikannya manusia sebagai pribadi individual dan sebagai ada dalam dunia (tanda sambung menunjukkan ketakterpisahan antara manusia dan dunia).
2. Adanya dalil-dalil yang melandasi yaitu
       a. Setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan mengevaluasi                   dunia, dan dalam bereaksi terhadap dunia
     b. Manusia sebagai pribadi tidak bisa dimengerti ddalam kerangka fungsi-  fungsi atau unsur-  unsur yang membentuknya.
      c. Bekerja semata-mata dalam kerangka kerja stimulus respons dan memusatkan perhatian       pada fungsi-fungsi seperti penginderaan, persepsi, belajar.
3. Berusaha melengkapi, bukan menyingkirkan dan menggantikan orientasi- orientasi yang ada dalam psikologi
4. Sasaran eksistensial adalah mengembangkan konsep yang komperehensif tentang manusia dan memahami manusia dalam keseluruhan realitas eksistensialnya, misalnya pada kesadaran, perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan pengalaman-pengalaman pribadi individual yang berkaitan dengan keberadaan individualnya dalam dunia dan diantara sesamanya. Tujuan utamanya adalah menemukan kekuatan dasar, tema, atau tendensi dari kehidupan manusia, yang dapat dijadikan kunci kearah memahami manusia.
5. Tema-temanya adalah hubungan antar manusia, kebebasan, dan tanggung jawab, skala nilai-nilai individual, makna hidup, penderitaan, keputus asaan, kecemasan dan kematian.

3. Konsep Utama Terapi Humanistik Eksistensial
1.  Kesadaran diri
    Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia dapat berpikir dan memutuskan. Kesadaran diri membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Pada hakikatnya semakin tinggi kesadaran seseorang maka semakin dia hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi, dan atas tujuan-tujuan pribadi.
2.   Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
     Kesadaran atas kebebasan dan tangung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi bagian dasar bagi manusia. Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang dimana merupakan sesuatu yang patologis, sebab dia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk   pertumbuhan kepribadian.
3.    Penciptaan makna
     Manusia itu unik, dalam arti lain bahwa selalu berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk yang rasional dan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

4.   Fungsi  dan Peran Terapis
     Terapis di dalam terapi humanistik eksistensial memiliki tugas yang paling utama, yaitu berusaha agar dapat mengerti pasien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia. Dimana tekhnik yang digunakan selalu mendahului suatu pengertian yang mendalam terhadap pasiennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lain tapi juga dari satu fase ke fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama. 

5.       Prosedur dan Teknik Terapi Humanistik
a.         Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya : Implikasi Konseling.
          Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran akan adanya alternatif, motivasi, faktor yang mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup    pribadi seseorang, merupakan sasaran dari semua konseling yaitu tugas terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran memerlukan imbalan.    
b.      Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling.
      Terapi eksistensial terus-menerus mengarahkan terfokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi Mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar. Apabila klien tidak mau mengakui dan menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi. Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk belajar mengambil  resiko dengan menggunakan kebebasan yang ada. Kalau tidak berbuat seperti   itu berarti klien tidak mampu berjalan dan secara neurotik menjadi ketergantungan pada terapis. Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit mereka menerima fakta bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin selama hidupnya selalu berusaha untuk menghindari dari semua pilihan itu sendiri.
c.    Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa Berhubungan Dengan Orang Lain : Implikasi Konseling.
     Menantang klien untuk mau memulai meneliti cara dimana mereka telah  kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama dengan jalan membiarkan   orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses terapi itu sendiri sering   menakutkan bagi klien dimana pada saat itu mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka terpaksa menerima kembali. Dengan jalan   menolak untuk memberikan penyelesaian atau jawaban yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi dengan realitas yang hanya mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban mereka sendiri dan dalam diri        mereka sendiri.
d.     Pencarian Makna : Implikasi Konseling.
       Kondisi yang tumbuh dari perasaan ketidaksempurnaan atau kesadaran akan kenyataan bahwa orang ternyata tidak menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah kesadaran bahwa tindakan serta pilihan sesorang mengungkapkan kurang dari potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai pribadi. dimana   orang mengabaikan potensi-potensi tertentu yang dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan eksistensial ini. Beban kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga bukan sebagai gejala yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis eksistensial adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klien tentang cara mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang kehadiran makna dan arah hidup.
e.      Kecemasan Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi Konseling.
       Kecemasan adalah materi dalam sesi terapi produktif. jika klien tidak  mengalami kecemasan maka motivasi untuk mengalami perubahan menjadi rendah. maka terapis yang berorientasi eksistensial dapat menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana bertenggang rasa dengan keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya hidup tanpa ditopang bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan dari hidup yang serba tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang lebih autonom. Terapis dan klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu bahwa melepaskan diri dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa disertai dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa berkurang pada saat klien mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan cara-cara hidup yang lebih baru.
f.   Kesadaran Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi Konseling.
       Latihan dapat memobilisasikan klien untuk secara sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini bisa mengubah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa menerima keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan yang lebih bermakna.

6. Tahap Pelaksanaan Terapi Humanistik Eksistensial
1.      Tahap pendahuluan
Konselor mambantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasikan asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendgartikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin pada eksistensial mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah  dalam kehidupan mereka.
2.      Tahap pertengahan
Klien di motivasi agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman    baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan   yang lebih baik dan dianggap pantas oleh klien.
3.      Tahap akhir
Berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien di motivasi agar dapat mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang lengkap. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk   menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan kebebasan pribadinya sendiri.

Daftar Pustaka
1.    Abidin, Zaenal. (2007). Analisis Eksistensial. Jakarta: PT Raja Grafindo.
2.    Semiun,Yustinus.(2006). Kesehatan mental 3. Kanisius: Yogyakarta
3.    Feist, Jess dan Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. New York: Salemba Humanika



Kamis, 10 Maret 2016

TERAPI PSIKOANALISIS (TUGAS 1)

Pengertian Psikoanalisis

            Psikoanalisis ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memilik beberapa definisi dan sebutan, Adakalanya psikoanalisis didefinisikan sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai pengetahuan psikologi.
Psikoanalisis menurut definisi modern yaitu:
1.    Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa,
2.    Psikoanalisis adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran (bawah sadar),
3.    Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.
Psikoanalisis dalam pengertian lain (Hjelle & Ziegler, 1992)yaitu:
1.    Teori mengenai kepribadian & psikopatologi,
2.    Metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran & perasaan individu yang tidak disadari.
Psikoanalisis memiliki sebutan-sebutan lain yaitu:
1.    Psikologi dalam, karena menurut Freud penyebab neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak dapat disadari, pengaruhnya lebih besar dari apa yang terdapat dalam kesadaran dan untuk menyelidikinya, diperlukan upaya lebih dalam,
2.    Psikodinamika, karena Psikoanalisis memandang individu sebagai sistem dinamik yang tunduk pada hukum-hukum dinamika, dapat berubah dan dapat saling bertukar energi.
Adapun contoh dari Psikoanalisis adalah Hipnotis, analisis mimpi, mekanisme pertahanan diri.

KONSEP- KONSEP UTAMA TERAPI PSIKOANALISIS

1.    struktur kepribadian
·      id
·      ego
·      super ego
2.    pandangan ttg sifat manusia
·      pandangan freud ttg sifat manusia pd dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan reduksionistik
3.      kesadaran & ketidaksadaran
·      konsep ketaksadaran
Ø mimpi2 → merupakan representative simbolik dari kebutuhan2, hasrat2  konflik
Ø salah ucap / lupa → thd nama yg dikenal
Ø sugesti pascahipnotik
Ø bahan2 yg berasal dari teknik2 asosiasi bebas
Ø  bahan2 yg berasal dari teknik proyektif
4.      Kecemasan
·      Adalah suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu
     Fungsi → memperingatkan adanya ancaman bahaya
·      3 macam kecemasan
Ø  Kecemasan realistis
Ø  Kecemasan neurotic
Ø  Kecemasan moral

TUJUAN TERAPI PSIKOANALISIS
·      Membentuk kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri klien
·      Focus pd uapaya mengalami kembali pengalaman masa anak2

FUNGSI DAN PERAN TERAPIS 
·      Terapis / analis membiarkan dirinya anonym serta hny berbagi sedikit perasaan & pengalaman shg klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis
·      Peran terapis
Ø Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hub personal dlm menangani kecemasan secara realistis
Ø Membangun hub kerja dg klien, dg byk mendengar & menafsirkan
Ø Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan2 klien
Ø Mendengarkan kesenjangan2 & pertentangan2 pd cerita klien

PENGALAMAN KLIEN DALAM TERAPI
·      Bersedia melibatkan diri kedalam proses terapi yg intensif & berjangka panjang
·      Mengembangkan hub dg analis / terapis
·      Mengalami krisis treatment
·      Memperoleh pemahamn atas masa lampau klien yg tak disadari
·      Mengembangkan resistensi2 untuk belajar lbh byk ttg diri sendiri
·      Mengembangkan suatu hub transferensi yg tersingkap
·      Memperdalam terapi
·      Menangani resistensi2 & masalah yg terungkap
·      Mengakhiri terapi

HUBUNGAN KLIEN DAN TERAPIS
·      Hub dikonseptualkan dalam proses tranferensi yg menjadi inti Terapi Psikoanalisis
·      Transferensi mendorong klien untuk mengalamatkan pd terapis “ urusan yg belum selesai” yg terdapat dalam hub klien dimasa lalu dg org yg berpengaruh
·      Sejumlah perasaan klien timbul dari konflik2 seperti percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci
·      Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yg menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan & dendamnya
·      Jika analis mengembangkan pandangan yg tidak selaras yg berasal dari konflik2 sendiri, mk akan terjadi kontra transferensi
Ø Bentuk kontratransferensi
→ perasaan tdk suka / keterikatan & keterlibatan yg berlebihan
Ø Kontratransferensi dapat mengganngu kemajuan terapi

TEKNIK DASAR TERAPI PSIKOANALISI
Asosiasi bebas
→ adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu & pelepasan emosi2 yg berkaitan dg situasi2 traumatik di masa lalu
Penafsiran
→ Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi2 bebas, mimpi2, resistensi2 dan transferensi bentuk nya = tindakan analis yg menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna2 t.l
Analisis Mimpi
→ Suatu prosedur yg penting untuk menyingkap bahan2 yg tidak disadari dan memberikan kpd klien atas beberapa area masalah yg tak terselesaikan
Analisis dan Penafsiran Resistensi
→ Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan2 yg ada dibalik resistensi shg dia bias menanganinya
Analisis & Penafsiran Transferensi
→ Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis krn mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi

DAFTAR PUSTAKA

1. Salkind, Neil J., (2004).,  An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher. 
2. Dr. Dede Rahmat Hidayat, M.Psi., (2011)., Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling., Bogor: Ghalia Indonesia.