Senin, 26 Desember 2016

Sistem Informasi Psikologi: Model Tes Buta Warna secara komputerisasi

Sistem Informasi Psikologi: Model Tes Buta Warna secara komputerisasi
Berikut adalah contoh flowchart model sistem tes buta warna yang telah terkomputerisasi






Jumat, 04 November 2016

Elemen dan Karakteristik Sistem Informasi Psikologi (Tugas Softskill 2)

Banyak aktivitas manusia yang berhubungan dengan sistem informasi.  Sistem informasi memberikan nilai tambah terhadap proses, produksi, kualitas, manajemen, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah serta keunggulan kompetitif
Seperti diketahui, bahwa sebuah sistem informasi tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan beberapa elemen yang saling berkaitan untuk menjalankan sebuah sistem informasi. Sistem informasi terdiri dari elemen- ­elemen yang terdiri dari orang, prosedur, perangkat keras, perangkat lunak, basis data, jaringan komputer dan komunikasi data. Semua elemen ini merupakan komponen fisik.                                
  Oleh karena itu, saya akan membahas tentang elemen-elemen dan karakteristik sistem serta model sistem informasi psikologi.
A. Elemen- elemen Sistem Informasi
Elemen Sistem Menurut Mcleod  (2001) mengatakan tidak semua sistem memiliki kombinasi elemen-elemen yang sama, tetapi ia merupakan suatu susunan dasar.                                                                                                              
Elemen sistem menurut Togar (1994) adalah bagian terkecil sistem yang dapat diidentifikasi. Input-output adalah kerangka yang bermanfaat untuk mengevaluasi operasi sistem (analisis proses) dan menetukan alternative- alternative untuk peningkatan performansi sistem (analisi hasil akhir). Dan lingkungan sistem adalahh kumpulan obyek dimana perubahannya akan mempengaruhi sistem dalam batas-batas tertentu.                                                                           
Wikipedia menjelaskan ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem yaitu seperti tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan.                                                                                     
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa elemen sistem adalah bagian terkecil sistem yang dapat diidentifikasi dan berupa susunan dasar yang mempunyai sebuah sistem tersendiri.

Adapun beberapa elemen atau unsur yang membentuk sebuah sistem yang disebutkan dalam Wikipedia , yaitu :
·         Tujuan (goal) pada setiap sistem memiliki tujuan. Tujuan bisa lebih dari satu. Tujuan inilah yang menjadi daya dorong atau motivasi yang mengarahkan ke arah mana sistem bergerak. Tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda termasuk berlaku juga dalam sistem informasi.
Sekalipun tujuan dari setiap sistem berbeda, secara umum ada tiga macam tujuan utama yaitu :
-           Untuk mendukung fungsi kepengurusan manajemen
-           Untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen
-           Untuk mendukung kegiatan operasi perusahaan
Secara khusus, tujuan sistem informasi bergantung pada kegiatan yang ditangani.     Namun, kecenderungan pengguna sistem informasi lebih ditunjukan pada usaha          menuju unggulan kompetitif, yaitu mampu bersaing dan mengungguli pesaing.
·         Masukan (input) adalah segala sesuatu yang masuk kedalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan untuk di proses.
·         Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna.
·         Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan yang bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan dan lain – lain.
·         Mekanisme pengendalian dan Umpan balik adalah mekanisme pengendalian dilakukan dengan menggunakan umpan balik (feedback) dari keluaran.
·         Batas (boundary) adalah pemisahan antara sistem dan daerah diluar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup atau kemampuan sistem.

Sedangkan menurut Jogianto (2005) menyebutkan bahwa elemen-elemen sistem informasi adalah sebagai berikut:

·         Component yaitu suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.
·         Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. batasan suatu sistem menunjukan ruang lingkup dari sistem tersebut.
·         Lingkungan Luar Sistem dari suatu sistem adalah apapun diluar batas sistem yang mempengaruhi operasi. Lingkungan luar sistem dapat bersifat menguntungkan dana dapat juga bersifat menguntungkan sistem tersebut. Lingkungan luar yang menguntungkan berupa energi dari sistem dan dengan demikian harus tetap dijaga dan dipelihara. sedang lingkunagn luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak maka akan menggangu kalangsungan hidup dari sistem.
·         Penghubung Sistem merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem yang lainya. melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem yang lainya. Dengan penghubung satu subsistem dapat berintegrasi dengan subsistem yang lainya membentuk satu kesatuan.
·         Masukan Sistem adalah energi yang masukan kedalam sistem. masukan dapat berupa masukan perawatan (maintenance input), dan masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan supaya tersebut dapat beroperasi.signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran. sebagai contoh didalam komputernya dan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.
·         Keluaran Sistem sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklafikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. misalnya untuk sistem komputer, panas yang dihasilkan adalah keluaran yang tidak berguna dan merupakan hasil sisa pembuangan, sedang informasi adalah keluaran yang dibutuhkan.
·         Pengolahan Sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran. suatu sistem produksi akan mengolah masukan berupa bahan baku dan bahan-bahan yang lain menjadi keluaran berupa barang jadi.

B. Karakteristik Sistem
Menurut Hutahaean (2014) supaya sistem dapat dikatakan sistem yang baik maka harus memiliki karakteristik sebagai berikut:                                         
·      Komponen
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen-komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen sistem terdiri dari komponen yang berupa subsistem atau bagian-bagian dari sistem.
·      Batasan Sistem (boundary)
Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan luarnya. Batasan sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan. Batasan suatu sistem menunjukan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.
·      Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar sistem adalah diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan dapat bersifat menguntungkan yang harus tetap dijaga dan yang merugikan yang harus dijaga dan di kendalikan, kalau tidak akan mengganggu kelangsungan hidup dari sistem.
·      Penghubung Sistem (interface)
Penghubung sistem merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsitem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari subsistem ke subsistem lain.
·      Masukan Sistem (input)
Masukan adalah energi yang di masukkan ke dalam sistem, yang dapat berupa perawatan dan masukkan sinyal.
·      Keluaran Sistem
Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
·      Pengolah Sistem
Suatu sistem menjadi bagian pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran. Sistem produksi akan mengolah bahan baku menjadi bahan jadi, sistem akuntansi akan mengolah data menjadi laporan-laporan.
·      Sasaran Sistem
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Sasaran dari sistem sangat menetukan input yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem

C. Model Sistem Informasi Psikologi
       Secara umum, bisa disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi – informasi yang berhubungan dengan psikologis. Penggunaan sistem informasi dalam psikologi dimungkinkan karena banyak hal dalam dunia psikologi yang masih bisa dikelola dengan sentuhan komputerisasi. Misalnya penggunaan tes psikologi secara virtual, penggunaan teknologi eye-tracking dan yang terbaru adalah teknologi virtual reality yang memungkinkan seseorang untuk mengurangi bahkan menyembuhkan gangguan psikologis seperti ADHD, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), dan beragam fobia.

DAFTAR PUSTAKA

Hutahaean, Jeperson. 2014. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Deepublish.
Jogianto HM. (2005). Sistem Teknologi Informasi. Andi. Yogyakarta.
Mcleod Jr, Raymond dan George Schell. (2001). Management Information Systems. Edisi 8 New Jersey: Prentice-Hall.
Nana. (2016). http://nanacentiaputri.blogspot.co.id/2016/11/sistem-informasi-psikologi.html. Diakses pada tanggal 4 November 2015.

https://id.wikipedia.org/wiki/Elemen. Diakses pada tanggal 4 November 2016. 

Senin, 03 Oktober 2016

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (TUGAS SOFTSKILL 1)

A. Sistem

1. Definisi Sistem
            Menurut Fat pengertian sistem adalah suatu himpunan suatu “benda” nyata atau abstrak yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan, berhubungan, berketergantungan, saling mendukung, yang secara keseluruhan bersatu dalam satu kesatuan (unity untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien dan ekeftif.                                                             
            Menurut Murdick sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur atau bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan tertentu.                                  
           Menurut Jerry Futzgerald sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.                                                                                      
            Menurut Lani Sidharta sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berhubungan yang secara bersama mencapai tujuan-tujuan yang sama.                            
             Menurut Prof. Dr. Ir Marimin sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan yang kompleks.                                                                                                 
            Menurut Jogianto mengemukakan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata seperti tempat, benda dan orang orang yang betul-betul ada dan terjadi.                                                                                                                
             Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah satu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait atau saling bergantung membentuk keselurahan yang kompleks. 

2. Karakteristik Sistem
            Supaya sistem dapat dikatakan sistem yang baik maka harus memiliki karakteristik sebagai berikut:                                                                                              
·         Komponen
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen-komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan.
·         Batasan Sistem
Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan luarnya.
·         Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar sistem adalah diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan dapat bersifat menguntungkan yang harus tetap dijaga dan yang merugikan yang harus dijaga dan di kendalikan, kalau tidak akan mengganggu kelangsungan hidup dari sistem.
·         Penghubung Sistem
Penghubung sistem merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsitem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari subsistem ke subsistem lain.
·         Masukan Sistem
Masukan adalah energi yang di masukkan ke dalam sistem, yang dapat berupa perawatan dan masukkan sinyal.
·         Keluaran Sistem
Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
·         Pengolah Sistem
·         Sasaran Sistem
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Sasaran dari sistem sangat menetukan input yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. 

B. Informasi

1. Definisi Informasi
            Menurut Gordon B, davis informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang.                   
            Meneurut Kenneth C, laudon informasi adalah data yang sudah dibentuk ke dalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia.  
            Menurut Anton M, moeliono informasi adalah penerangan, keterangan pemberitahuan, kabar atau berita. Informasi juga adalah keteangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian analisis atau kesimpulan.                                                                                        
            Menurut Robert G. murdick mengatakan informasi terdiri atas data yang telah di dapatkan, diolah atau diproses atau sebaliknya yang digunakan untuk tujuan penjelasan atau penerangan, uraian, atau sebagai sebuah dasar untuk pembuatan ramalan atau jembatan keputusan.
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah hasil pengolahan data yang sudah dapat diterima oleh akal pikiran penerima informasi yang nantinya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi juga dapat berupa hasil gabungan, hasil analisa dan hasil penyimpulan.

C.  Psikologi

1. Definisi Psikologi
            Menurut Supratman psikologi adalah tentang ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan dimana dia tengah berada.
            Menurut Woodworth dan Marquis psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu dari sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.
            Menurut Wilhelm Wundt psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti perasaan pancaindera, pikiran, perasaan dan kehendak.
            Menurut Plato dan Aristoteles berpendapat psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.                                                    
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu dimana individu tersebut tidak dapat di lepaskan dari lingkungannya.

D. Sistem Informasi

1. Definisi Sistem Informasi
            Menurut Alter sistem informasi adalah kombinasi antar prosedur kerja, informasi, orang dan teknologi informasi yang di organisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi.   
            Menurut Bodnar dan Hopwood sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna.                                                                                              
                 Menurut Gelinas, Oram dan Wiggins sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis computer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada para pemakai.
            Menurut Hall sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur formal dimana data di kelompokkan, diproses menjadi informasi dan di distribusikan kepada pemakai. 
            Menurut Turban Mclean, dan Wetherbe sebuah sistem informasi mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik.             
            Menurut Wilkinson sistem informasi adalah kerangka kerja yang mengkoordinasikan sumberdaya (manusia computer) untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (informasi) guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan.                                                                            
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa sistem informasi adalah kumpulan informasi di dalam sebuah basis data menggunakan teknologi informasi yang di gunakan untuk menginformasikan kepada para penggunanya.

E. Sistem Informasi Psikologi
            Berdasarkan penjelasan antara sistem, informasi, psikologi serta sistem informasi maka dapat di tarik kesimpulan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu bidang kajian ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi itu sendiri dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi.
            Sistem informasi psikologi itu sendiri adalah suatu sistem yang menyediakan informasi-informasi yang berkaitan dengan ilmu psikologi yang dapat dijadikan untuk meningkatkan penguna dalam pengambilan suatu keputusan terhadap penelitian, perencana, dan pengelolaan.

F. Contoh Kasus
            Ani pernah mengikuti beberapa test psikologi sederhana melalui sebuah sosial media, dimana disana diminta untuk mengisi beberapa soal dengan pilihan ganda sebagai jawabannya.  Setelah Ani mengikuti lebih lanjut, dapat diketahui soal-soal tersebut merupakan salah satu dari test proyektif yaitu HTP (house tree person) yang disederhanakan dan dibuat lebih mudah dipahami. Dengan mengisi pilihan ganda yang tersedia dan menjadikan jawaban paling dominan sebagai tolak ukur hasil test, lalu keluarlah hasil test tersebut. Tidak terlalu valid dan reliabilitas mungkin, tetapi ini merupakan salah satu contoh bahwa test psikologi tidak menakutkan yang banyak orang pikirkan dan test psikologi ini sudah mengikuti perkembangan zaman dengan turut serta menggunakan system informasi atau komputerisasi untuk mempermudah penggunaan alat testnya.
Analisis : 
Berdasarkan contoh kasus diatas, dengan adanya sistem informasi atau media komputer saat ini banyak sekali beberapa tes psikologi yang dapat diakses melalui komputer, salah satunya seperti contoh kasus diatas yaitu HTP (house tree person). Meskipun hasil test tersebut belum tentu tepat dan belum tentu dapat dijadikan tolak ukur psikologis. Namun, dengan menggunakan test tersebut melalui media komputer kita sudah dapat melakukan skoring test, serta melakukan penginputan data dan pemrosesan data yang berkaitan dengan perilaku-perilaku manusia, sehingga mendapatkan hasil dari test psikologi tersebut.

Daftar Pustaka
1. Gaol, L, Jimmy. 2008. Sistem Informasi Manajemen Pemahaman dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo
2.  Hutahaean, Jeperson. 2014. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Deepublish.
3. Prof. Dr. Ir. Marimin. 2006. Sistem Infomasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Grasindo.
4. Supratman, Lucy pujasari. 2016. Psikologi komunikasi. Yogyakarta: deepublish
5. Bayu. 2015. Sistem Informasi Psikologihttps://bayu96ekonomos.wordpress.com. Di akses pada tanggal 03 Oktober 2016.
6. Hikmah, Kurniasih. 2015. Sistem Informasi Psikologihttp://hikmah-kurniasih.blogspot.co.id. Di akses pada tanggal 03 Oktober 2016.
7. Ana. Sistem Informasi Psikologiana.staff.gunadarma.ac.id. Di akses pada tanggal 03 Oktober 2016.




Sabtu, 18 Juni 2016

TERAPI KELOMPOK

1.                  Terapi kelompok
A.                      Pengertian Terapi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama.
Terapi Kelompok adalah salah satu metoda Pekerjaan sosial yang menggunakan kelornpok sebagai rnedia dalam proses pertolongan profesionalnya. Dalam literature Pekeriaan Sosial metode ini sering disebut sebagai groupwork atau group theraphy. Praktik Pekerjaan Sosial dalam kelompok bukanlah fenomena baru. Di Amerika, misalnya, metode ini telah diterapkan lebih dari setengah abad yang lalu. Pada saat itu para Pekerja sosial meyakini bahwa intervensi yang berbasis pada kelornpok sangat efektif dan efisien dalam memecahkan rnasalah individu maupun masalah sosial.
Terapi Kelompok mirip dengan masalah-masalah yang ditangani oleh Terapi lndividu seperti konseling. Yang membedakan dengan Terapi lndividu adalah pendekatannya. Terapi Kelompok tidak menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan, melainkan menggunakan kelompok sebagai media penyembuhan. lndividu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh seorang atau satu tim pekerja Sosial.

B.                       Tujuan Terapi Kelompok
Menurut Hartford dan Alissi metode Terapi Kelompok digunakan untuk memelihara atau memperbaiki keberfungsian personal dan sosial para anggota kelompok dalam beragam tujuan, yakni
1.                        tujuan korektif
2.                         tujuan preventif,
3.                        tujuan pertumbuhan sosial norma,
4.                        tujuan peningkatan personal
5.                         tujuan peningkatan partisipasi dari tanggungjawab masyarakat
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam terapi kelompok antara lain :
1.                       Membantu anggotanya menghadapi stress dalam kehidupan, berfokus pada disfungsi perasaan, pikiran dan perilaku.
2.                       Menawarkan dukungan kepada klien dari seorang terapis selama periode krisis, atau dekompensasi sementara, memulihkan, dan memperkuat pertahanan sementara serta mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu
3.                        Mempertahankan homeostasis terhadap adanya perubahan yang tidak diperkirakan sebelumnya maupun kejadian yang terjadi secara bertahap.
4.                       Menurunkan rasa terisolasi, meningkatkan penyesuaian kembali dan juga hubungan bagi
komunitas yang bermasalah serta meningkatkan kemampuan memecahkan masalah

C.                      Kelebihan dan Kelemahan Terapi Kelompok
Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut
1. Kelebihan Terapi Kelompok
a. Keterbukaan antar anggota kelompok untuk member dan menerima informasi dan pendapat anggota lain.
b. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan
menekan kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok.
c.  Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan norma yang telah
disepakati oleh kelompok.
2.                    Kekurangan Terapi Kelompok
Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak
anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas
            pertemuan.

D. Komponen Kelompok dalam Terapi Kelompok
1. Struktur kelompok
Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
2.                       Besar kelompok
Menurut Dr. Wartono (1976) dalam Yosep (2007), Jumlah ideal anggota kelompok 7-8 orang. Jumlah minimum anggota kelompok berkisar 4 orang dan jumlah maksimum 10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika
terlalu kecil maka tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi.
3.                       Lamanya sesi
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20 – 40 menit untuk fungsi terapi rendah, dan 60 – 120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Biasanya dimulai dengan orientasi, kemudian tahap kerja dan terminasi. Frekuensi pertemuan dapat disesuaikan dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
4.                       Komunikasi
Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobsevasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetisi, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan.
5.                       Peran kelompok
Pemimpin (leader) harus memiliki kemampuan dalam proses yang terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi, peningkatan intonasi suara, sikap menghakimi antar anggota kelompok selama interaksi berlangsung. Dengan kata lain pemimpin harus peka terhadap adanya konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan pengetahuan menyeluruh terhadap kelompok, pengetahuan tentang topic atau isu yang sedang didiskusikan dalam kelompok. Selain itu juga pemimpin harus memiliki kemampuan mempresentasikan topic dengan bahasa yang dapat di mengerti oleh anggota kelompok.      
6.                       Kekuatan kelompok
Kekuatan kelompok adalah kemampuan anggota kelompok dalam mempengaruhi jalannya kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok
7.                       Norma kelompok
Norma adalah standar perilaku dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pengalaman masa laludan saat ini. Pemahaman tentang norma berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.
8.                       Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan antar anggota kelompok bekerjasama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk tertarik dan puas terhadap kelompoknya. Terapis perlu melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, selain mengelompokkan anggota yang memiliki masalah yang sama. Terapis juga menciptakan kekohesifan dengan cara mendorong kelompok untuk berbicara satu sama lainnya. Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota member pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lainnya.

E.                      Cara Melakukan Terapi Kelompok
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam terapi kelompok adalah:
1.                       Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.
2.                        Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.
3.                       Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur. Minat dan ketertarikan individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena anggota yang memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur.
4.                       Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
Taraf permulaan. Dalam langkah ini, terapis perlu membicarakan apakah waktu yang telah ditentukan dan disepakati bersama itu tetap bisa dilaksanakan, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara anggota yang satu dengan yang lainnya karena tiap anggota harus saling menghormati agar apabila anggota yang satu sedang berbicara maka anggota yang lain dapat memperhatikan, adanya keterbukaan antara anggota yang satu dengan yang lain serta dengan terapis, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara anggota kelompok dengan terapis, serta adanya kesepakatan untuk menjaga kerahasiaan. Mengembangkan dan memelihara situasi kelompok. Melakukan diskusi, saling berbagi pendapat dan pengalaman, serta memecahkan masalah
5.                       Tahap Evaluasi dan Terminasi
Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.

F.                      Manfaat Terapi Kelompok
Dapat mengidentifikasi masalah bersama orang lain yang memiliki permasalahan yang sama Dapat membantu klien untuk meningkatkan hubungan interpersonal dengan klien lain sehingga setiap dari mereka dapat saling mendukung Dapat membantu menghilangkan perasaan-perasaan terisolasi dalam diri klien Dapat membantu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang dirasakan oleh klien Dapat mendorong klien untuk membicarakan perasaan-perasaan batinnya dengan sepenuh hati Dapat membantu klien untuk melepaskan ketegangan dalam diri yang telah dipendam Dapat meningkatkan klien untuk berpartisipasi serta bertukar pikiran dan masalah dengan orang lain.

G.                     Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Kelompok
Terapi kelompok dapat menjadi terapi pilihan untuk orang yang masalahnya terutama antar pribadi dan yang tidak mengalami gangguan psikiatrik utama. Terapi kelompok juga baik untuk orang yang hanya memerlukan tempat dimana ia dapat mencoba perilaku yang baru dan mempraktekkan keterampilan sosial yang baru. Berikut kasus-kasusnya :
1.                   Kecanduan alcohol, obat-obat terlarang dan rokok
2.                   Kekerasan seksual
3.                   Stress dalam menghadapi penyakit yang di derita
4.                   Trauma
5.                   Korban bullying
6.                   Insomnia
7.                   Permasalahan hubungan sosial
8.                   Orang yang mengalami masalah emosional
9.                   Siswa yang mengalami kesulitan belajar

Contoh Kasus:
Alice, 54 tahun. Ketika keluarganya akhirnya membujuknya untuk berobat ke klinik rehabilitasi alkohol. Ia jatuh terguling tangga kamar tidurnya saat dalam keadaan mabuk, dan mungkin kejadian tersebut yang akhirnya membuatnya mengakui bahwa ada yang salah dengan dirinya. Kebiasaan minumnya menjadi tidak terkendali selama beberapa tahun terakhir. Ia mengawali hari dengan minum, berlanjut sepanjang pagi, dan pada siang hari ia berada dalam kondisi mabuk total. Ia jarang ingat tentang berbagai hal yang terjadi selepas tengah hari. Sejak awal masa dewasa ia minum secara rutin, namun jarang pada siang hari dan tidak pernah sampai mabuk. Kematian suaminya secara mendadak dalam sebuah kecelakaan mobil dua tahun sebelumnya telah memicu peningkatan frekuensi minumnya, dan dalam enam bulan kebiasaan minumnya telah berubah menjadi pola penyalahgunaan alkohol yang parah. Ia tidak memiliki keinginan untuk keluar rumah dan berhenti melakukan berbagai aktivitas sosial dengan keluarga dan teman-temannya. Upaya yang berulang kali dilakukan keluarganya untuk membuatnya membatasi konsumsi alkohol hanya memicu pertengkaran.
Terapi yang cocok untuk kasus diatas adalah terapi kelompok. Dengan terapi kelompok klien mendapat kesempatan untuk belajar cara berinteraksi sosial atau bersosialisasi, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut klien dilatih untuk tidak menarik diri ataupun menghindar dan klien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain.

Daftar Pustaka:
1.                       Kompasiana. Ketergantungan dan Penyalahgunaan Alkohol. (diakses 13/07/2015) http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2014/01/07/ketergantungan-dan-penyalahgunaan-alkohol-622963.html
2.                       Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: KANISIUS
3.                       Suharto, E. (2007). Pekerjaan Sosial di Dunia Industri – CSR. Bandung: Refika Aditama