1.
Terapi kelompok
A.
Pengertian
Terapi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang
memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma
yang sama.
Terapi Kelompok adalah salah satu metoda
Pekerjaan sosial yang menggunakan kelornpok sebagai rnedia dalam proses
pertolongan profesionalnya. Dalam literature Pekeriaan Sosial metode ini sering
disebut sebagai groupwork atau group theraphy. Praktik Pekerjaan Sosial dalam
kelompok bukanlah fenomena baru. Di Amerika, misalnya, metode ini telah
diterapkan lebih dari setengah abad yang lalu. Pada saat itu para Pekerja
sosial meyakini bahwa intervensi yang berbasis pada kelornpok sangat efektif
dan efisien dalam memecahkan rnasalah individu maupun masalah sosial.
Terapi Kelompok mirip dengan
masalah-masalah yang ditangani oleh Terapi lndividu seperti konseling. Yang
membedakan dengan Terapi lndividu adalah pendekatannya. Terapi Kelompok tidak
menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan, melainkan menggunakan
kelompok sebagai media penyembuhan. lndividu-individu yang mengalami masalah
sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan
dibimbing atau didampingi oleh seorang atau satu tim pekerja Sosial.
B.
Tujuan
Terapi Kelompok
Menurut Hartford dan Alissi metode
Terapi Kelompok digunakan untuk memelihara atau memperbaiki keberfungsian
personal dan sosial para anggota kelompok dalam beragam tujuan, yakni
1.
tujuan korektif
2.
tujuan preventif,
3.
tujuan pertumbuhan sosial norma,
4.
tujuan peningkatan personal
5.
tujuan peningkatan partisipasi dari
tanggungjawab masyarakat
Ada
beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam terapi kelompok antara lain :
1.
Membantu anggotanya menghadapi stress
dalam kehidupan, berfokus pada disfungsi perasaan, pikiran dan perilaku.
2.
Menawarkan dukungan kepada klien dari
seorang terapis selama periode krisis, atau dekompensasi sementara, memulihkan,
dan memperkuat pertahanan sementara serta mengintegrasikan kapasitas yang telah
terganggu
3.
Mempertahankan homeostasis terhadap adanya
perubahan yang tidak diperkirakan sebelumnya maupun kejadian yang terjadi
secara bertahap.
4.
Menurunkan rasa terisolasi, meningkatkan
penyesuaian kembali dan juga hubungan bagi
komunitas yang
bermasalah serta meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
C.
Kelebihan
dan Kelemahan Terapi Kelompok
Dalam proses dinamika kelompok terdapat
faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa
kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut
1.
Kelebihan Terapi Kelompok
a.
Keterbukaan antar anggota kelompok untuk member dan menerima informasi dan
pendapat anggota lain.
b.
Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan
menekan
kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok.
c.
Kemampuan secara emosional dalam
mengungkapkan kaidah dan norma yang telah
disepakati
oleh kelompok.
2.
Kekurangan Terapi Kelompok
Kelemahan
pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak
anggota
kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas
pertemuan.
D. Komponen Kelompok
dalam Terapi Kelompok
1.
Struktur kelompok
Struktur kelompok menjelaskan batasan,
komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok.
Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan
interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota,
arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara
bersama.
2.
Besar kelompok
Menurut Dr. Wartono (1976) dalam Yosep
(2007), Jumlah ideal anggota kelompok 7-8 orang. Jumlah minimum anggota kelompok
berkisar 4 orang dan jumlah maksimum 10 orang. Jika anggota kelompok terlalu
besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan,
mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika
terlalu
kecil maka tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi.
3.
Lamanya sesi
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20
– 40 menit untuk fungsi terapi rendah, dan 60 – 120 menit untuk fungsi kelompok
yang tinggi. Biasanya dimulai dengan orientasi, kemudian tahap kerja dan
terminasi. Frekuensi pertemuan dapat disesuaikan dengan tujuan kelompok, dapat
satu kali atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
4.
Komunikasi
Salah satu tugas pemimpin kelompok yang
terpenting adalah mengobsevasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok.
Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberikan kesadaran pada anggota
kelompok terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji
hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetisi, dan seberapa
jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan.
5.
Peran kelompok
Pemimpin (leader) harus memiliki
kemampuan dalam proses yang terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi,
peningkatan intonasi suara, sikap menghakimi antar anggota kelompok selama
interaksi berlangsung. Dengan kata lain pemimpin harus peka terhadap adanya
konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan
pengetahuan menyeluruh terhadap kelompok, pengetahuan tentang topic atau isu yang
sedang didiskusikan dalam kelompok. Selain itu juga pemimpin harus memiliki kemampuan
mempresentasikan topic dengan bahasa yang dapat di mengerti oleh anggota kelompok.
6.
Kekuatan kelompok
Kekuatan kelompok adalah kemampuan
anggota kelompok dalam mempengaruhi jalannya kegiatan kelompok. Untuk
menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang
paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok
7.
Norma kelompok
Norma adalah standar perilaku dalam
kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang
berdasarkan pengalaman masa laludan saat ini. Pemahaman tentang norma berguna
untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.
8.
Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan antar
anggota kelompok bekerjasama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi
anggota kelompok untuk tertarik dan puas terhadap kelompoknya. Terapis perlu
melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, selain mengelompokkan
anggota yang memiliki masalah yang sama. Terapis juga menciptakan kekohesifan
dengan cara mendorong kelompok untuk berbicara satu sama lainnya. Kekohesifan
dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota member pujian dan mengungkapkan
kekaguman satu sama lainnya.
E.
Cara Melakukan Terapi Kelompok
Langkah-langkah
yang dapat dilakukan dalam terapi kelompok adalah:
1.
Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan
dari klien mengenai masalahnya yang mungkin tepat dipecahkan melalui
terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien.
Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis
dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara
terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku
melalui terapi kelompok.
2.
Tahap Assesmen dan Perencanaan
Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien)
mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana
tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan
pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang
dibutuhkan.
3.
Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk
suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin
mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan
kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan
jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur. Minat dan
ketertarikan individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena
anggota yang memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam
berbagai kegiatan kelompok secara teratur.
4.
Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan,
nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga
dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang
dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan
penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
Taraf permulaan. Dalam langkah ini,
terapis perlu membicarakan apakah waktu yang telah ditentukan dan disepakati
bersama itu tetap bisa dilaksanakan, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi
antara anggota yang satu dengan yang lainnya karena tiap anggota harus saling
menghormati agar apabila anggota yang satu sedang berbicara maka anggota yang
lain dapat memperhatikan, adanya keterbukaan antara anggota yang satu dengan
yang lain serta dengan terapis, lalu menyampaikan bagaimana komunikasi antara
anggota kelompok dengan terapis, serta adanya kesepakatan untuk menjaga
kerahasiaan. Mengembangkan dan memelihara situasi kelompok. Melakukan diskusi,
saling berbagi pendapat dan pengalaman, serta memecahkan masalah
5.
Tahap Evaluasi dan Terminasi
Dalam langkah ini terapis perlu melihat
sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui
evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau
pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai
tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir,
kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan
satu atau lebih anggota kelompok.
F.
Manfaat Terapi Kelompok
Dapat mengidentifikasi masalah bersama
orang lain yang memiliki permasalahan yang sama Dapat membantu klien untuk
meningkatkan hubungan interpersonal dengan klien lain sehingga setiap dari
mereka dapat saling mendukung Dapat membantu menghilangkan perasaan-perasaan
terisolasi dalam diri klien Dapat membantu menghilangkan kecemasan-kecemasan
yang dirasakan oleh klien Dapat mendorong klien untuk membicarakan
perasaan-perasaan batinnya dengan sepenuh hati Dapat membantu klien untuk
melepaskan ketegangan dalam diri yang telah dipendam Dapat meningkatkan klien
untuk berpartisipasi serta bertukar pikiran dan masalah dengan orang lain.
G.
Kasus-kasus yang diselesaikan dalam Terapi Kelompok
Terapi kelompok dapat menjadi terapi
pilihan untuk orang yang masalahnya terutama antar pribadi dan yang tidak
mengalami gangguan psikiatrik utama. Terapi kelompok juga baik untuk orang yang
hanya memerlukan tempat dimana ia dapat mencoba perilaku yang baru dan
mempraktekkan keterampilan sosial yang baru. Berikut kasus-kasusnya :
1.
Kecanduan alcohol, obat-obat terlarang
dan rokok
2.
Kekerasan seksual
3.
Stress dalam menghadapi penyakit yang di
derita
4.
Trauma
5.
Korban bullying
6.
Insomnia
7.
Permasalahan hubungan sosial
8.
Orang yang mengalami masalah emosional
9.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar
Contoh
Kasus:
Alice,
54 tahun. Ketika keluarganya akhirnya membujuknya untuk berobat ke klinik rehabilitasi
alkohol. Ia jatuh terguling tangga kamar tidurnya saat dalam keadaan mabuk, dan
mungkin kejadian tersebut yang akhirnya membuatnya mengakui bahwa ada yang
salah dengan dirinya. Kebiasaan minumnya menjadi tidak terkendali selama
beberapa tahun terakhir. Ia mengawali hari dengan minum, berlanjut sepanjang
pagi, dan pada siang hari ia berada dalam kondisi mabuk total. Ia jarang ingat
tentang berbagai hal yang terjadi selepas tengah hari. Sejak awal masa dewasa
ia minum secara rutin, namun jarang pada siang hari dan tidak pernah sampai
mabuk. Kematian suaminya secara mendadak dalam sebuah kecelakaan mobil dua
tahun sebelumnya telah memicu peningkatan frekuensi minumnya, dan dalam enam
bulan kebiasaan minumnya telah berubah menjadi pola penyalahgunaan alkohol yang
parah. Ia tidak memiliki keinginan untuk keluar rumah dan berhenti melakukan
berbagai aktivitas sosial dengan keluarga dan teman-temannya. Upaya yang
berulang kali dilakukan keluarganya untuk membuatnya membatasi konsumsi alkohol
hanya memicu pertengkaran.
Terapi yang cocok untuk kasus diatas
adalah terapi kelompok. Dengan terapi kelompok klien mendapat kesempatan untuk
belajar cara berinteraksi sosial atau bersosialisasi, yaitu memperkenalkan diri
pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan
orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan
kegiatan-kegiatan tersebut klien dilatih untuk tidak menarik diri ataupun
menghindar dan klien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain.
Daftar
Pustaka:
2.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan
Mental 1. Yogyakarta: KANISIUS
3.
Suharto, E. (2007). Pekerjaan
Sosial di Dunia Industri – CSR. Bandung: Refika Aditama