Kamis, 30 Oktober 2014

#Pinternet Review Jurnal Internet Addiction

Judul: Internet Addiction Disorder
Oleh:Ardhyana Rokhmah Pratiwi, dkk
Internet telah mengubah dunia. Tidak hanya dunia yang menjadi semakin ‘sempit’ karena informasi, teks, gambar, gambar bergerak dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan menit bahkan detik tanpa terhalang batas geografis, mengukuhkan globalisasi, tapi juga perubahan pola komunikasi terjadi, Slevin bahkan menyatakan bahwa ini merupakan tanda transformasi masyarakat modern (Slevin, 2000). Bukan hanya pola
interaksi masyarakat yang berubah ketika medium internet mulai dipakai secara luas oleh masyarakat dunia, bahkan, menurut penelitian Chandler, manusia mulai mengkonstruksikan identitas dirinya melalui medium ini,lewat homepage personal mereka, hingga pengisian profil pada situs-situs pertemanan (Slevin, 2000). 
Internet sebagai medium baru, medium yang bebas dan nyaris tanpa penyaring, tidak dapat dipungkiri, memiliki berbagai dampak bagi para penggunanya, positif maupun negatif. Lewat internet, seseorang dapat menulis tentang antirasisme, program pengentasan kemiskinan, etika, hingga perdamaian dunia. Namun lewat medium yang sama, orang lain bisa, tentu saja, menulis tentang anjuran bunuh diri, perang, bahkan kebohongan. Internet bagaikan sebuah kotak Pandora modern (M. Mayer and J. E. Till, 1996). ‘Pandora’s Box’ (kotak Pandora) atau lebih tepatnya, tabung batu Pandora atau ‘Pandora’s great vase’ telah didefinisikan sebagai sebuah proses yang ketika telah diaktifkan, akan menimbulkan banyak masalah yang tidak bisa ditangani (New Larousse Encyclopedia of Mythology, 1959: 93). Dalam tulisannya mengenai Internet, the Self and Experience in Everyday Life, James Slevin menyebutnya dengan ‘ the dilemmas’ untuk mengambarkan bagaimana penggunaan internet sebagai sarana konstruksi diri dan ‘bersosialisasi’, dipandang dari sisi positif dan negatif (Slevin, 2000). Ia merangkum penelitian- penelitian tentang internet sebelumnya dan menggambarkan perdebatan antara pendapat yang menyatakan bahwa internet menurunkan social involvement
seseorang dan bahwa hubungan yang dibuat antar manusia di internet bersifat terbatas dibandingkan dengan hubungan yang terjadi dengan kedekatan fisik.Dalam bagian yang lain, Slevin membuka judul bahasannya dengan ‘The internet paradox: loneliness and depression versus friendship and happiness’. Seperti diungkapkan Selvin, dalam sebuah penelitian bernama The HomeNet Project, di Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat, ditemukan bahwa semakin besar penggunaan internet diasosiasikan dengan terjadinya penurunan dalam komunikasi keluarga. Pemakaian internet yangsemakin besar untuk berkomunikasi juga diasosiasikan dengan penurunan ukuran lingkaran sosial, baik yang
dekat maupun yang jauh. Individu yang penggunaan internetnya lebih tinggi juga dilaporkan mengalami peningkatan kesepian. Selain itu, penggunaan internet yang semakin tinggi diasosiasikan dengan peningkatan depresi dan pemisahan diri dari kehidupan nyata (Slevin, 2000:167). Namun ia juga menuliskan pendapat yang menolak pendapat di atas. Seperti yang diungkapkan oleh Kraut: “..., the nature of social interaction may be affected both by the very form of the technology and by the content of messages conveyed. Consequently, claims that ‘the internet was associated with declines in participants’ communication with family members’ and so on become so vague as to be meaningless. Are the researchers referring to the technology or the message?” (..., sifat alamiah dari interaksi sosial dapat dipengaruhi oleh bentuk teknologi dan oleh isi pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, klaim yang menyatakan bahwa ‘internet diasosiasikan dengan penurunan dalam komunikasi partisipan’ dengan para anggota keluarga
dan sebagainya, menjadi tidak jelas sehingga menjadi tidak berarti. Apakah yang dimaksud oleh para peneliti ini teknologinya atau pesannya?) (Slevin, 2000:169).
Internet memang berbeda dengan televisi, medium yang menyebabkan orang menjadi terisolasi dari dunia luar,meskipun penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia justru membuktikan bahwa kegiatan menonton televisi justru menjadi tempat berkumpul, menonton tayangan bersama, ajang bersosialisasi . David Greenfield, penemu the Center for Internet Studies merangkum pendapatnya tentang paradoks yang ditimbulkan internet lewat pernyataan: “It's (the Internet) a socially connecting device that's socially isolating at the same time" (Ini (internet) ada lah sebuah alat yang menghubungkan secara sosial sekaligus mengisolasi secara sosial) (DeAngelis, 2000, par. 7).
Tidak sedikit di antara para pengguna internet merupakan para internet addicts (pecandu internet). Angka pecandu internet ini sendiri cukup signifikan. Sebuah survey besar dilakukan oleh David Greenfield pada tahun 1998 dengan partisipan sebanyak 18.000 orang (DeAngelis, 2007 par. 8). Ia menemukan bahwa 5,7 persen dari seluruh partisipan dalam survey tersebut memenuhi kriteria untuk compulsive internet usage (pemakaian internet yang tak terkontrol). Greenfield menyatakan bahwa ada sesuatu yang kuat tentang internet addiction dan area-area yang paling besar dipengaruhi adalah tentang
pernikahan dan hubungan. Tekanan dalam pernikahan dan hubungan ini lantas dimanifestasikan lewat penggunaan yang tak terkontrol terhadap pornografi, cybersex , dancyberaffairs. Bahkan, Greenfield menemukan 62 persen orang menyatakan bahwa mereka masuk ke situs- situs pornografis rata-rata empat jam seminggu. Dari persentase tersebut, 37, 5 persen pengguna mengaku melakukan 46 masturbasi ketika online (DeAngelis, 2007 par. 10). Dalam Korean Click Report , dilaporkan bahwa pada tahun 2004, ada sebanyak 69, 9 persen internet subscribers di Korea Selatan, menempati peringkat teratas di antara negara- negara Organization for Economic Cooperation
and Development (OECD). Di antara para remaja di Korea Selatan, 98% menggunakan internet (International KCR: National Survey of Internet Use in Korea. Korean Click Report
, 2004). Internet, telah menjadi bagian gaya hidup di Korea Selatan, terutama bagi anak-
anak dan remaja. internet bukan hanya media baru bagi remaja, untuk banyak orang, internet merupakan bagian integral hidup mereka (Ha,Kim, Bae,Bae,Kim,Sim,Lyoo Cho, 2007).Studi-studi sebelumnya mengindikasikan bahwa internet accessibility adalah salah satu di antara faktor-faktor penting bagi penggunaan yang berlebihan oleh mahasiswa (Morahan Martin & Schumacher, 2000; Anderson,2001; Lin & Tsai, 2002). Ketika akses bebas dan mudah, para mahasiswa cenderung rentan menjadi kecanduaninternet (Kandell, 1998). Di Korea Selatan, remaja memiliki akses internet yang mudah, seperti mahasiswa,disebabkan infrastruktur internet di seluruh negeri, dan bisa rentan terhadap
‘pathological internet use’ atau‘internet addiction’. Pendapat mengenai kerentanan remaja terhadap, apa yang disebut Demetrovics, Szeredi,dan Rozsa,problematic internet use (penggunaan internet bermasalah), diperkuat oleh Duran yang menyatakan bahwa remaja lebih rentan pada pathological internet use karena mereka kurang memiliki kemampuan dalam mengontrol antusiasme mereka akan sesuatu yang membangkitkan ketertarikan mereka, seperti internet atau computer games (Duran, 2003). Freidenberg setuju dengan ini. Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan pada tahun 2002, ia menyatakan bahwa para mahasiswa memiliki risiko tertinggi untuk kecanduan internet untuk beberapa alasan berdasarkan waktu dan situas. Mereka sedang mengeksplorasi identitas diri dan seksualitasnya dan sifat alamiah internet yang anonymous memungkinkan mereka untuk melakukan itu (Kiralla, 2005). Studi-studi sebelumnya tentangpathological internet use fokus terhadap implikasio internet addiction pada level deskriptif psikopatologi dengan variabel - variabel psikologis seperti kesepian ( loneliness ) dan harga diri (self-esteem) (Kraut, R. M., Lundmark V., Kiesler S., Mukopadhyay T., Scherlis W., 1998 dan Br
enner, V., 1997).Meskipun demikian, tidak jelas apakah penggunaan berlebihan internet ini merupakan penyebab atau konsekuensi dari masalah-masalah mental (Duran, 2003). Penelitian yang lain memberi perhatian pada asosiasi pathological internet usedengan depresi (Young, 1998 dan Lyoo, Ha, Yang, Kim, Chang, Woo, 2009) . Namun,para peneliti ini hanya menunjukkan sebuah kemungkinan adanya asosiasi karena studi mereka merupakan cross-sectional studies dengan self-reported questionnaire
, jadi mereka tidak dapat menentukan adanya hubungan kausal antara internet addiction
dengan depresi (Duran, 2003). Kritik Duran untuk penelitian-penelitian sebelumnya tentang internet addiction ini merupakan batu pijakan bagi pemilihan penelitian dengan pendekatan kualitatif berparadigma post-positivism ini.Sebuah penelitian tentang Internet Addiction Disorder pernah dilakukan oleh Athari pada tahun 2004. Penelitiannya fokus pada dampak penggunaan internet yang tak terkontrol pada mahasiswa terhadap kehidupan akademik, sosial, dan keungan mereka, serta karakteristik mahasiswainternet addicts. Sedangkan penelitian lain mengenai topik yang sama di Indonesia, terbatas. Masalah yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) Mengapa para mahasiswa Indonesia menjadi internet addicts atau mengalami ‘pathological internet use’ ? (2) Latar belakang dan alasan apa yang mendorong mereka menghabiskan begitu banyak waktu online?
Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran deskriptif mengenai latar belakang dan alasan paramahasiswa menjadi internet addicts tanpa mampu mengontrol penggunaan internet mereka. Sedangkan signifikansi dari penelitian adalah sebagai berikut: (1) Signifikansi Akademis. Penelitian ini merupakanpenelitian berparadigma post- positivism yang bertujuan untuk mengekplorasi dan mendeskripsikan mengapa para mahasiswa menjadi internet addicts. Karena penelitian-penelitian sebelumnya sebagian besar menggunakan paradigma positivism. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu komunikasi secara umum dan internet addiciton disorder secara khusus. (2) Signifikansi Praktis. Memahami penyebab internet addiciton.
Setelah membaca dan mencoba mereview simpulan yang dapat diambil adalah bahwa ada asosiasi antara bentuk parental communication terhadap pengguna internet dengan penggunaan internet seseorang dan internet addiction disorder (IAD) berasosiasi dengan mental engagement antara pecandu internet dengan internet gratification sought, kebutuhan untuk membangun identitas dan kebutuhan untuk mencapai self improvement atau perbaikan diri. Sebeneranya kebutuhan akan koneksi internet memang tidak lagi terhidarisaat ini. Dunia kerja dan pendidikan memanfaatkan internet untuk mengoptimalkan kinerja mereka. Namun, dunia internet memiliki daya tarik sekaligus godaan yang besar sehingga sebagian pengguna internet menjadi pecandu internet. 
Selain itu, penanganan terhadap pecandu harus diupayakan secara multidimensional dan terpadu. Bila pecandu telah dapat melepaskan diri dari kecanduannya, mereka tetap perlu waspada agar tidak terlibat kembali dalam kebiasaan lamanya. Persoalan mantan pecandu internet akan semakin kompleks bila ia harus menggunakan internet untuk pekerjaan atau studinya. Karena itu, penanganan mantan pecandu internet pun perlu terus dilakukan dengan tekun dan berkesinambungan. 
  
                             
Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar